TARAKAN – Kebijakan ekspor langsung komoditas unggulan dari Kalimantan Utara (Kaltara) mulai memberikan dampak signifikan bagi nelayan. Salah satu dampak yang paling terasa ialah kenaikan harga kerang darah yang melonjak hingga tiga kali lipat di tingkat nelayan.
Hal itu terungkap dalam kegiatan yang digelar Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Utara bertema Membangun Kaltara Bersama dengan Peningkatan Ekspor Langsung Komoditas Unggulan Melalui Laut dan Udara di Tarakan, Rabu (13/5/2026).
Kepala BKHIT Kalimantan Utara, Ichi Langlang Buana, mengatakan sebelum adanya ekspor langsung, harga kerang darah di tingkat nelayan hanya berkisar Rp6 ribu per kilogram. Namun setelah jalur ekspor langsung dibuka, harganya meningkat menjadi Rp18 ribu per kilogram.
Menurutnya, ekspor langsung membuat rantai distribusi menjadi lebih singkat sehingga nilai jual komoditas ikut meningkat. Kondisi tersebut diharapkan memberi dampak ekonomi secara langsung bagi nelayan maupun pelaku usaha lokal.
Tak hanya berdampak pada harga jual, ekspor langsung juga dinilai menguntungkan daerah karena devisa hasil ekspor tercatat langsung di Kalimantan Utara. “Kalau ekspor langsung, devisanya masuk ke Kalimantan Utara. Itu nanti berpengaruh terhadap pendapatan daerah dan dana bagi hasil,” katanya.
Dalam forum tersebut, lanjutnya, BKHIT bersama Bea Cukai, BPS, dinas terkait, dan pelaku usaha membahas berbagai upaya memperkuat ekspor langsung, termasuk penyederhanaan proses bisnis antarinstansi.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah kendala teknis yang dihadapi pelaku usaha, mulai dari pengurusan dokumen hingga kendala sistem pada kementerian teknis. Karena itu, koordinasi lintas lembaga terus dilakukan agar proses ekspor menjadi lebih mudah tanpa mengurangi pengawasan. “Harapannya pelaku usaha lebih mudah, tapi pengawasan tetap berjalan,” ujarnya.
Selain produk beku dan segar, pemerintah juga mulai menjajaki ekspor produk hidup seperti kepiting hidup melalui penerbangan langsung rute Tarakan–Hong Kong.
Penerbangan langsung tersebut dinilai jauh lebih efektif dibanding jalur sebelumnya yang harus transit lebih dari 24 jam. “Kalau sekarang penerbangannya sekitar tiga jam, ditambah bongkar muat total sekitar lima jam. Jadi produk hidup masih aman,” katanya.
Meski ekspor terus didorong, pemerintah juga mulai membahas aspek pengendalian dan kelestarian sumber daya agar komoditas unggulan Kaltara tetap terjaga di tengah meningkatnya permintaan pasar luar negeri.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


