Edukasi Digencarkan, Warga Masih Enggan Imunisasi

BONTANG — Kasus suspek campak di Kota Bontang mencapai 169 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 88,17 persen terjadi pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Bachtiar Mabe, menegaskan kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah. Rendahnya cakupan imunisasi dinilai berpotensi mempercepat penyebaran penyakit di tengah masyarakat.

“Rata-rata yang terkena campak adalah anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Ini yang menjadi fokus kami saat ini,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, imunisasi memiliki peran penting dalam membentuk kekebalan tubuh serta mencegah penularan. Tanpa imunisasi, risiko tidak hanya dialami individu, tetapi juga lingkungan sekitar karena tidak terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

“Kalau tidak diimunisasi, bukan hanya anak itu yang berisiko, tetapi juga orang di sekitarnya,” jelasnya.

Untuk menekan angka kasus, Diskes Bontang menggencarkan program imunisasi sejak April hingga Mei 2026. Program ini ditargetkan menjangkau seluruh anak agar memperoleh vaksin secara lengkap.

Namun, di lapangan masih ditemukan sebagian masyarakat yang enggan mengikuti imunisasi. Kondisi ini umumnya dipengaruhi kurangnya pemahaman tentang manfaat vaksin.

“Yang belum mau imunisasi kemungkinan belum memahami manfaatnya. Karena itu kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Agus S

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER