TARAKAN – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Tarakan meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit hewan menjelang Iduladha. Medik Veteriner DKPP Tarakan, drh. Richard Alfonsus Saroha, menyebut sejumlah penyakit yang perlu diantisipasi, terutama Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan zoonosis seperti antraks. “Terkait penyakit, yang perlu diwaspadai itu PMK. Tapi ini sudah kita antisipasi melalui karantina, surveilans, pemantauan, dan vaksinasi,” kata Richard, Senin (27/4/2026).
Dia menjelaskan, jika ditemukan ternak yang belum divaksin, maka akan langsung dilakukan vaksinasi oleh petugas. Selain itu, potensi penyakit dari luar daerah juga diantisipasi melalui proses karantina ketat. “Untuk antraks memang belum ditemukan di Tarakan, tapi tetap kita waspadai karena ada lalu lintas ternak dari luar. Semua ternak yang masuk sudah difilter lewat karantina,” ujarnya.
Richard juga mengingatkan pentingnya memperhatikan syarat usia ternak kurban. Sapi yang layak disembelih minimal berusia dua tahun, yang dapat dikenali dari kondisi gigi. “Biasanya sudah ada dua pasang gigi tetap yang lebih besar dibanding gigi susu. Ini terus kita edukasikan ke masyarakat,” jelasnya.
Terkait gejala PMK, dia menyebut tanda umum antara lain sapi pincang dan mengeluarkan air liur berlebihan. Meski menular antar ternak, penyakit ini tidak menular ke manusia.
Namun demikian, dia menyoroti masih rendahnya kesadaran pelaporan dari peternak. Banyak kasus dilaporkan terlambat. “Sering kali dilaporkan saat sudah sembuh atau justru sudah parah. Padahal kami targetkan respon maksimal 1×24 jam sejak laporan diterima,” tegasnya.
Petugas lapangan atau Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) akan melakukan pengecekan awal sebelum penanganan lanjutan dilakukan.
DKPP juga terus menggencarkan sosialisasi hingga tingkat RT dan kelurahan, termasuk menyediakan layanan pengaduan. Masyarakat diminta aktif melapor jika menemukan gejala penyakit pada ternak.
Selain penyakit, manajemen pakan juga menjadi perhatian. Richard menyebut masih ada peternak yang memberi pakan secara sembarangan, yang berdampak pada kesehatan dan pertumbuhan ternak.
Untuk pengawasan, DKPP telah menyiapkan petugas khusus untuk ternak besar seperti sapi, serta petugas lain untuk ternak kecil seperti ayam dan babi. “Petugas kami lebih banyak di lapangan untuk pengawasan dan pembinaan,” katanya.
Saat Iduladha, pengawasan akan diperketat di seluruh lokasi pemotongan, termasuk di Rumah Potong Hewan (RPH). Setiap kelurahan juga akan memiliki petugas pemantau.
Pemeriksaan dilakukan dalam dua tahap, yakni antemortem (sebelum pemotongan) dan postmortem (setelah pemotongan). “Kalau ditemukan penyakit seperti cacing hati, bagian tersebut bisa dimusnahkan sesuai tingkat keparahan,” jelasnya.
Tak hanya itu, petugas juga akan memberikan edukasi terkait pemotongan yang higienis, pengemasan daging, hingga distribusi yang tepat. “Jumlah petugas cukup banyak dan sudah diatur melalui SK, jadi pengawasan kita pastikan berjalan maksimal,” pungkasnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


