TENGGARONG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar) punya target jangka panjang, dalam hal penanganan kasus Tuberkulosis (TBC). Yakni mengentaskan atau eleminasi kasus aktif TBC ditahun 2030. Salah satunya dengan melakukan skrinning kepada orang terduga TBC.
Dikatakan Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Kukar, Supriyadi, Kukar menjadi kabupaten paling aktif di Kalimantan Timur (Kaltim). Baik itu menyerahkan sejumlah sumber daya untuk skrinning hingga peralatan Barang Medis Habis Pakai (BMHP).
Pun sebagian besar Puskesmas di Kukar sudah dilengkapi dengan alat Tes Cepat Molekuler (TCM). Juga menyiapkan alat X-Ray Portable, untuk mendeteksi kondisi paru-paru pasien yang diduga TBC. “Kukar termasuk paling dulu (menggunakan X-Ray Portable) di Kaltim,” ungkap Supriyadi.
“Karena penanganan ideal itu menemukan dan menangani secepatnya untuk memutuskan mata rantai penularan,” timpalnya.
Supriyadi menyebut pada tahun 2025, Dinkes Kukar menargetkan 2.809 kasus TBC yang ditemukan. Dengan target sasaran skrinning sebanyak 24.272 orang. Hingga Mei 2025 sudah 11.466 sasaran skrinning dilakukan, didapati 491 kasus TBC baru.
Tidak bisa bekerja sendiri, perlu peran dan kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Terutama yang merasa terjangkit TBC maupun pernah kontak erat dengan penderita TBC. Banyak tanda-tanda yang ditimbulkan oleh pasien penderita TBC. Mulai dari batuk berkepanjangan, demam yang sering hilang timbul terutama pada sore dan malam hari, penurunan berat badan drastis tanpa sebab jelas, nafsu makan yang menurun hingga nyeri dada.
Supriyadi pun menyebut masih stigma negatif di tengah masyarakat, padahal TBC merupakan salah satu penyakit yang bisa disembuhkan dengan meminum obat dalam jangka waktu tertentu. Tergantung ringan atau beratnya kondisi yang dialami.
“Padahal bisa disembuhkan dengan minum obat jangka panjang tertentu dari 6-22 bulan,” tutup Supriyadi. (adv)
Editor: Andhika


