Dari 59 Jadi 52, Sekolah Rakyat Tarakan Fokus pada Pembinaan Karakter Anak

TARAKAN – Jumlah siswa Sekolah Rakyat Tarakan kini berkurang menjadi 52 anak. Meski demikian, semangat pembelajaran dan pembinaan karakter tetap menjadi fokus utama sekolah rintisan yang berada di bawah pendampingan Kementerian Sosial tersebut.

Kepala Sekolah Rakyat Tarakan, Marisa Audia, menjelaskan bahwa sejak awal pembukaan, pihaknya menargetkan 100 siswa, terdiri dari 50 jenjang SD dan 50 jenjang SMP. Namun saat proses rekrutmen berlangsung, hanya tercatat 59 anak yang benar-benar mendaftar. Setelah dilakukan verifikasi, jumlah kehadiran berkurang menjadi 55 siswa. “Empat orang anak tiba-tiba menolak, alasannya ikut teman, bahasanya seperti itu,” ujar Marisa, Senin (20/10/2025).

Keempat anak tersebut berasal dari jenjang SMP. Seiring berjalannya waktu, jumlah siswa kembali menyusut. Beberapa anak terpaksa pulang karena alasan kesehatan dan keluarga. “Satu orang alasannya sakit, nggak bisa pisah dari orang tua. Padahal SMP, laki-laki,” tambahnya.

Ada pula satu anak SD yang ternyata masih terlalu kecil dan belum cukup umur untuk sekolah. Sementara satu anak lainnya izin pulang karena sakit cacar monyet dan khawatir menular ke teman-temannya.

Kini, Sekolah Rakyat Tarakan mendampingi 52 anak aktif, dengan satu siswa masih dalam proses dibujuk agar mau kembali ke asrama.

“Anak ini terbiasa mencari uang sendiri. Begitu sampai di sini, dikasih aturan misal bangun jam 04.30 WITA untuk persiapan salat subuh dan makan, sementara anak-anak yang biasa mencari uang lebih memilih tidur,” jelas Marisa.

Untuk membantu anak-anak beradaptasi dengan jadwal belajar yang teratur, tim dari Program Keluarga Harapan (PKH) Dinas Sosial terus memberikan pendampingan. “Karena wali asuh kami dari PKH, jadi memang mereka yang mendampingi anak-anak selesai belajar. Guru-guru bertugas sampai jam 4 sore,” ujarnya.

Sekolah Rakyat Tarakan merupakan bagian dari program pembinaan sosial bagi anak-anak keluarga penerima manfaat (KPM). Kegiatan belajar dijalankan dengan dukungan PKH, Dinas Sosial, dan Rehabilitasi Sosial (Rehsos).

Menurut Marisa, perubahan perilaku siswa menjadi salah satu capaian yang paling membanggakan. “Dulu mereka terbiasa meminta uang pada orang dewasa. Sekarang sudah tidak lagi. Kami selalu bilang, ‘Kamu anak hebat, tidak perlu minta-minta.’ Sekarang mereka lebih percaya diri dan saling menghargai,” tuturnya.

Untuk tahap awal, kegiatan belajar di sekolah ini masih difokuskan pada matrikulasi, yakni masa adaptasi sebelum memasuki pembelajaran reguler. “Kita tidak mungkin langsung membuka modul, sementara sebagian anak belum lancar membaca dan menulis,” kata Marisa.

Sebagian siswa bahkan belum bisa membaca jam. Karena itu, selama tiga bulan pertama, pihak sekolah fokus memperkuat kemampuan dasar mereka, terutama karena mayoritas merupakan anak putus sekolah.

Fasilitas sekolah pun masih dilengkapi secara bertahap. Beberapa perlengkapan seperti laptop, LCD, dan smartboard masih menunggu pengiriman ke Tarakan. Sementara kebutuhan pribadi siswa serta perlengkapan asrama sudah terpenuhi seluruhnya.

Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER