TARAKAN – Minat Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk bergabung di Sekolah Negeri Terpadu (SNT) 11 Tarakan masih tergolong rendah. Hingga saat ini, Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan mencatat, baru lima orang yang mendaftar menjadi tenaga pendidik di sekolah unggulan tersebut.
Kepala Disdik Tarakan Tamrin Toha mengatakan, selain pendaftar guru, terdapat tiga pelamar untuk posisi Wakil Kepala Sekolah SNT 11. Namun, hanya satu orang yang lolos seleksi administrasi.
“Untuk Tarakan itu baru lima pendaftar. Cuma saya enggak tahu siapa, karena kita hanya melihat jumlah peminatnya,” kata Tamrin, Kamis (24/9/2026).
Dia menjelaskan, proses perpindahan aparatur ke SNT 11 tidak hanya bergantung pada kelengkapan administrasi. ASN yang nantinya beralih menjadi pegawai pemerintah pusat, juga harus memperoleh persetujuan dari Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK), yakni kepala daerah. “Yang melamar jabatan Wakil Kepala Sekolah SNT 11 itu ada tiga. Cuma ditolak dua, mungkin karena tidak memenuhi syarat administrasi,” ujarnya.
Menurut Tamrin, minimnya pendaftar menjadi tantangan tersendiri karena sekolah-sekolah di Tarakan masih membutuhkan tenaga pendidik. Meski begitu, Disdik tidak akan menghalangi ASN yang ingin bergabung ke SNT 11 demi pengembangan karier.
“Kita sudah kekurangan guru, masa mau diambil lagi? Tapi kita tidak menghalangi karena itu hak mereka. Apalagi kalau untuk berkarier lebih baik, karena ini sekolah unggulan,” ucapnya.
Sementara itu, SNT 11 Tarakan saat ini baru menerima satu angkatan dengan total sekitar 80 siswa. Tahun depan, jumlah peserta didik direncanakan bertambah melalui penambahan rombongan belajar (rombel).
“Ini kan angkatan pertama, baru 80 orang. Tahun depan rencananya ada penambahan rombel. Tetap diperuntukkan bagi peserta didik asal Tarakan melalui jalur prestasi,” jelasnya.
Tamrin menuturkan, SNT 11 menawarkan berbagai fasilitas yang tidak dimiliki sekolah reguler. Setiap siswa akan mendapatkan layanan antar-jemput, laptop pribadi, seragam khusus, hingga berbagai fasilitas penunjang pendidikan tanpa dipungut biaya.
“Fasilitasnya ada antar jemput, kemudian satu siswa satu laptop. Pakaiannya juga berbeda, ada beberapa macam. Semuanya gratis,” katanya.
Selain pengembangan SNT 11, pemerintah juga menyiapkan pembangunan sekolah baru di kawasan Mamburungan. Proyek tersebut direncanakan menggunakan dana APBN, sedangkan Pemerintah Kota Tarakan bertugas menyiapkan lahan seluas sekitar 20 hektare.
Berbeda dengan Sekolah Rakyat yang dilengkapi asrama, SNT tidak mengusung konsep tersebut. Namun, sekolah ini akan diperkuat dengan fasilitas penunjang pembelajaran berbasis praktik, termasuk pengembangan sektor pertanian dan peternakan.
“Kalau Sekolah Rakyat ada asrama. Kalau SNT tidak, tetapi fasilitasnya lebih lengkap lagi, termasuk untuk pengembangan peternakan dan pertanian,” pungkas Tamrin.
Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


