TARAKAN – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Tarakan. Dampaknya terlihat dari menurunnya jarak pandang secara signifikan yang kini hanya sekitar 2 kilometer, meski di wilayah Tarakan tidak terdeteksi titik panas.
Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, mengatakan berdasarkan pemantauan hingga pukul 09.00 Wita, terdapat 28 titik panas (hotspot) di Kalimantan Utara (Kaltara). Sebagian besar titik panas berada d Tanjung Selor, sedangkan Berau terpantau satu titik dan Tarakan nihil.
“Di Kalimantan Utara hingga pukul 09.00 Wita terdeteksi 28 titik panas. Mayoritas berada di Kelurahan Tanjung Selor Timur, Berau satu titik, sedangkan Tarakan tidak ada hotspot,” ujarnya, Selasa (15/9/2026).
Meski tidak ditemukan titik panas di Tarakan, kabut asap tetap memengaruhi kondisi atmosfer. BMKG mencatat jarak pandang di Tarakan yang sehari sebelumnya masih berkisar 7 hingga 8 kilometer, kini turun drastis menjadi sekitar 2 kilometer.
“Kalau kemarin jarak pandang masih 7 sampai 8 kilometer, hari ini tinggal sekitar 2.000 meter. Di Tanjung Selor sekitar 3 kilometer, sedangkan Berau sekitar 4 kilometer,” kata Khilmi.
Menurutnya, kabut asap yang menyelimuti Kaltara tidak hanya dipicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah setempat, tetapi juga merupakan asap kiriman dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, yang hingga kini masih memiliki banyak titik panas.
“Arah angin saat ini dominan bertiup dari selatan ke utara, sehingga asap dari Kalteng dan Kalsel terbawa ke wilayah Kalimantan Utara,” jelasnya.
BMKG memperkirakan kondisi kabut asap baru akan berangsur membaik, seiring datangnya musim hujan pada akhir September hingga awal Oktober. Meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah seperti Bulungan, Malinau, dan Nunukan, intensitasnya masih belum cukup untuk mengurangi dampak asap kiriman.
“Curah hujan yang terjadi saat ini belum mampu mengendalikan asap yang datang dari luar wilayah,” ucapnya.
BMKG mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, selama kabut asap masih terjadi. Warga yang harus beraktivitas di luar diminta menggunakan masker, tidak melakukan pembakaran lahan, serta terus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG.
“Kurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak. Jika harus keluar, gunakan masker, jangan melakukan pembakaran lahan, dan selalu ikuti informasi cuaca resmi dari BMKG,” tutup Khilmi.
Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


