TANJUNG SELOR – Anggota DPR RI perwakilan Kalimantan Utara (Kaltara), Hj. Rahmawati Zainal, menyambut positif berkembangnya kreativitas generasi muda Kaltara di bidang perfilman. Menurutnya, karya-karya sineas lokal perlu mendapat ruang yang lebih luas agar dapat dikenal masyarakat, sekaligus menjadi motivasi bagi lahirnya talenta-talenta baru di Kaltara.
Sebagai bentuk dukungan terhadap industri kreatif, politisi Partai Gerindra tersebut berencana menghadirkan fasilitas pemutaran film melalui konsep layar tancap maupun bioskop mini di sejumlah titik di Kaltara.
Program itu diharapkan dapat mempermudah masyarakat menikmati film lokal maupun film nasional dan internasional, tanpa harus pergi ke daerah yang memiliki bioskop besar.
“Kalau mengenai layar tancap atau layar bioskop itu merupakan saran dan masukan anak-anak di Kaltara. Tujuannya untuk memfasilitasi hasil karya anak-anak bangsa yang berkarya lewat perfilman,” ujar Hj. Rahmawati saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (26/6/2026).
Ia menilai keberadaan ruang pemutaran film tidak hanya menjadi sarana hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wadah apresiasi terhadap karya sineas lokal.
Perempuan yang biasa disapa Bunda Kaltara ini, berharap dengan adanya fasilitas ini, film-film hasil produksi putra-putri di Kaltara dapat diputar secara rutin sehingga lebih dikenal masyarakat secara luas.
Rahmawati menjelaskan, rencana tersebut telah masuk dalam daftar usulan program dan nantinya akan dikelola bersama pihak swasta.
Ia menambahkan, konsep yang diusung adalah bioskop mini atau layar digital yang tidak membutuhkan bangunan berukuran besar, namun tetap mampu memberikan kenyamanan bagi penonton.
“Itu sudah masuk usulan dan pelaksananya nanti akan melibatkan pihak swasta. Namanya layar digital itu sementara diperlukan ruang atau space yang tidak begitu besar, tapi bisa menampung beberapa orang,” jelasnya.
Menurutnya, konsep bioskop mini ini dinilai lebih realistis diterapkan di Kaltara, karena dapat memanfaatkan ruang-ruang yang sudah tersedia tanpa harus membangun gedung baru dengan biaya besar.
Rahmawati juga mengungkapkan, lokasi pemutaran film nantinya dapat memanfaatkan area di pusat-pusat aktivitas masyarakat, seperti kawasan pasar, sentra UMKM, maupun pusat perbelanjaan.
Bahkan, ruang kosong di lantai atas bangunan komersial dinilai berpotensi dijadikan lokasi bioskop mini.
“Tempatnya tidak harus luas, bisa di bangunan bagian atas pasar, ruang terbuka di bagian atas Alfamidi atau Indomaret. Sehingga selain promosi perfilman juga menjadi ajang pengungkit pertumbuhan ekonomi bagi pengusaha UMKM,” katanya.
Ia berharap, keberadaan bioskop mini tidak hanya memperluas akses masyarakat terhadap hiburan berkualitas, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian lokal.
Kehadiran pengunjung untuk menonton film diyakini akan berdampak pada meningkatnya aktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berada di sekitar lokasi.
Selain itu, Rahmawati optimistis program ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem industri kreatif di Kalimantan Utara. Dengan tersedianya ruang apresiasi bagi karya perfilman, para sineas muda daerah diharapkan semakin termotivasi untuk terus menghasilkan film-film berkualitas yang mampu bersaing di kanca nasional maupun internasional.(*)
Penulis: Martinus
Editor: Yusva Alam


