The Lost Forest, Film Kaltara yang Berpeluang Menuju Oscar

TARAKAN – Film pendek asal Kalimantan Utara (Kaltara) berjudul The Lost Forest membuka peluang untuk melangkah ke ajang perfilman paling bergengsi di dunia, Academy Awards atau Oscar. Peluang itu terbuka setelah film tersebut terpilih sebagai salah satu nominasi dalam Bali International Film Festival (Balinale) 2026.

Keikutsertaan The Lost Forest di Balinale menjadi pencapaian penting bagi dunia perfilman Kaltara. Pasalnya, Balinale telah berstatus sebagai Oscar Qualifying Film Festival, sehingga pemenang kategori Film Pendek berkesempatan mengikuti tahap seleksi awal Academy Awards.

Film ini mengisahkan Uli, bocah berusia tujuh tahun yang tumbuh dalam tradisi prasejarah di kawasan gua karst Kalimantan. Dalam rangka membuktikan legenda leluhur, Uli dikirim seorang diri ke jantung hutan. Namun perjalanan itu berubah menjadi pergulatan batin saat ia menemukan jejak manusia modern yang asing bagi kehidupannya.

Di tengah pertemuan dua dunia tersebut, Uli dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan mitos yang diwariskan leluhurnya atau menerima kenyataan baru yang mengancam identitas komunitasnya.

Film yang rampung diproduksi pada Oktober 2025 itu sebelumnya juga mendapat perhatian dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025. Kini, The Lost Forest bersaing bersama karya sineas dari berbagai negara dalam Balinale yang digelar di Sanur, Bali.

Produser Rohil Fidiawan dan Wisnu Dwi Prasetyo mengatakan pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa karya dari daerah mampu mendapat tempat di panggung internasional.

“Visi kami adalah membawa narasi dari sudut terjauh Kalimantan Utara ke hadapan penonton global tanpa kehilangan otentisitasnya. Terpilihnya kami di Balinale memberikan tanggung jawab besar untuk memperkenalkan wajah Indonesia yang berbeda di kancah internasional,” ujar keduanya dikonfirmasi, Minggu (7/6/2026).

Sutradara Mizam Fadilah menuturkan karakter Uli menjadi representasi dari pergulatan identitas yang terjadi ketika tradisi berhadapan dengan modernitas.

“Lewat sosok Uli, saya ingin mengeksplorasi kerapuhan identitas saat berhadapan dengan perubahan zaman. Karst Kalimantan bukan sekadar latar, ia adalah saksi bisu sejarah prasejarah yang kini bersinggungan langsung dengan modernitas,” katanya.

Meski masih harus melewati persaingan ketat di Balinale, masuknya The Lost Forest dalam seleksi resmi festival tersebut sudah menjadi capaian besar bagi industri kreatif Kaltara.

“Ini adalah bukti nyata bahwa talenta dari Kaltara mampu bersaing di level tertinggi. Terpilih di festival sekelas Balinale yang menjadi pintu menuju Oscar adalah pencapaian kolektif bagi industri kreatif di daerah kami,” ujar tim produksi.

Dukungan berbagai pihak pun terus mengalir dengan harapan The Lost Forest dapat melangkah lebih jauh dan membawa nama Kaltara serta Indonesia ke panggung Oscar.

Pewarta: Ade Prasetia

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER