SAMARINDA – Di tengah ancaman kerusakan terumbu karang akibat praktik penangkapan ikan destruktif di perairan Bontang, muncul pendekatan berbeda yang mencoba menjaga laut melalui jalur pariwisata.
Healing in Bontang (HIB), penyedia jasa open trip bahari yang berdiri sejak 2024, menjadikan wisata bukan sekadar aktivitas rekreasi, tetapi juga bagian dari upaya konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Pendiri Healing in Bontang, Suryani Ino, mengatakan ide tersebut lahir dari keresahan terhadap praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak, potasium, hingga alat tangkap yang merusak ekosistem laut.
“Di Bontang itu terumbu karangnya sebenarnya masih bagus. Tapi kita juga menemukan masalah, masih ada praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan,” ujarnya.
Menurut Ino, pendekatan berbasis larangan semata tidak cukup menghentikan praktik tersebut. Karena itu, HIB mencoba menghadirkan konsep berbeda dengan meramaikan kawasan laut melalui aktivitas wisata.
“Kalau laut ramai, aktivitas seperti itu otomatis berkurang. Karena ada pengawasan alami dari wisatawan,” katanya.
Namun, menurutnya, persoalan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari kondisi ekonomi masyarakat pesisir.
“Kalau hanya dilarang tanpa solusi, mereka akan tetap kembali ke cara lama,” lanjutnya.
Dari pendekatan itu, HIB mulai melibatkan masyarakat lokal secara langsung dalam operasional wisata. Beberapa nahkoda kapal yang kini bekerja bersama HIB bahkan merupakan mantan pelaku pengeboman ikan yang kini beralih profesi menjadi pelaku wisata bahari.
Model tersebut perlahan berkembang menjadi sistem pemberdayaan masyarakat pesisir. Saat ini, HIB melibatkan sekitar 25 anak muda sebagai tour guide serta sejumlah nelayan sebagai nahkoda dan penyedia kapal wisata.
Dalam kondisi ramai, aktivitas wisata mampu menggerakkan hingga enam kapal dengan lebih dari 100 wisatawan dalam satu hari. Jumlah kunjungan wisatawan disebut dapat mencapai sekitar 1.000 orang setiap bulan.
Efek ekonominya mulai dirasakan masyarakat pesisir, mulai dari sektor transportasi laut, konsumsi, hingga pelaku UMKM lokal.
“Pendapatan beberapa nahkoda kapal bahkan bisa di atas Rp10 juta per bulan ketika kondisi ramai,” ujar Ino.
Selain sektor ekonomi, HIB juga aktif membina anak-anak muda di kawasan pesisir, khususnya di Bontang Kuala.
“Daripada mereka tidak punya aktivitas jelas, kami ajak mereka kerja, belajar public speaking, berenang, sampai penggunaan drone,” kata Co-founder HIB, Muhammad Ali Wafa.
Menurut Ali, wisata kini mulai diposisikan sebagai alternatif karier baru bagi anak muda pesisir.
Perjalanan HIB sendiri tidak langsung berkembang besar. Pada awal operasional, seluruh aktivitas wisata dijalankan sendiri oleh Ino dengan jumlah peserta terbatas.
“Awalnya aku nge-guide sendiri, maksimal bawa 10 orang. Semuanya benar-benar organik,” ujarnya.
Perubahan mulai terlihat sejak akhir 2024 ketika HIB memutuskan menjalankan trip secara konsisten setiap akhir pekan dan hari libur, meski jumlah peserta masih sedikit.
“Sekecil apa pun jumlah tamunya, trip tetap jalan,” kata Ali.
Menurutnya, konsistensi menjadi fondasi utama pertumbuhan wisata tersebut.
HIB juga mulai mengembangkan sistem berbasis teknologi, termasuk layanan respons otomatis selama 24 jam untuk mempermudah wisatawan melakukan pemesanan hingga pembayaran.
Selain pelayanan, HIB menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas utama. Seluruh wisatawan diwajibkan menggunakan pelampung dan mendapatkan briefing sebelum perjalanan dimulai.
“Karena ini aktivitas laut, keselamatan itu wajib,” tegas Ali.
Dalam kondisi cuaca buruk, perjalanan wisata akan dijadwalkan ulang demi menjaga keamanan wisatawan.
Tak hanya fokus pada wisata, HIB juga menyisipkan edukasi lingkungan dalam setiap perjalanan, termasuk pengenalan fungsi terumbu karang serta pentingnya menjaga ekosistem laut.
Sebagian pendapatan operasional juga dialokasikan untuk kegiatan lingkungan seperti transplantasi terumbu karang.
“Harapannya, pariwisata tidak hanya menikmati, tapi juga memulihkan,” ujar Ino.
Saat ini HIB melayani sejumlah destinasi wisata bahari di Bontang seperti Pulau Segajah, Karang Pasilan, dan Pulau Beras Basah. Ke depan, mereka juga mulai merancang pengembangan wisata komunitas pesisir, family gathering, hingga outbound berbasis ekowisata.
Menurut Ino, potensi wisata pesisir di Bontang masih sangat besar dan belum sepenuhnya tergarap.
“Kami ingin pariwisata ini bisa jadi sumber penghasilan baru, sekaligus menjaga laut tetap hidup,” tutupnya. (MK)
Penulis: Nuzul Saputra
Editor: Agus S


