Bandara Juwata Buka Peluang Angkutan Online Masuk, Tunggu Skema dan Aturan Jelas

TARAKAN – Pengelola Bandara Juwata Tarakan membuka peluang bagi angkutan online, baik ojek online (ojol) maupun taksi online (taksol), untuk beroperasi di kawasan bandara. Namun, hingga saat ini akses tersebut belum dapat direalisasikan karena masih menunggu skema kerja sama dan pemenuhan regulasi.

Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Kerja Sama Bandara Juwata Tarakan, Agung Tri Laksana, mengatakan pihaknya pada prinsipnya tidak menutup diri terhadap masuknya layanan transportasi berbasis aplikasi. “Kami pada dasarnya siap membuka ruang. Tapi semua harus melalui mekanisme kerja sama yang jelas dan memenuhi standar pelayanan di bandara,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Menurutnya, pengoperasian transportasi di bandara tidak bisa dilakukan secara bebas, karena harus mengacu pada standar minimum pelayanan, termasuk aspek keamanan, kenyamanan, dan keteraturan. “Bandara itu punya standar. Baik dari sisi kendaraan, pengemudi, maupun sistem pelayanannya harus jelas. Itu yang harus dipenuhi terlebih dahulu,” katanya.

Agung menjelaskan, pihaknya sebenarnya sudah sempat menjalin komunikasi dengan pihak aplikator. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut konkret yang mengarah pada kerja sama resmi. “Komunikasi sudah pernah ada, tapi memang belum ada tindak lanjut. Jadi sampai sekarang angkutan online belum beroperasi secara resmi di dalam kawasan bandara,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, kerja sama dengan angkutan online juga memerlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk regulator seperti Dinas Perhubungan, serta badan usaha yang menaungi operasional angkutan tersebut. “Harus ada badan usaha yang jelas, izin operasional yang lengkap, dan skema kerja sama yang disepakati bersama. Tidak bisa langsung berjalan begitu saja,” tegasnya.

Saat ini, layanan transportasi resmi di Bandara Juwata masih didominasi taksi bandara, yang telah terikat kerja sama dan menerapkan tarif berbasis zona atau ring.

Jumlah armada pun dibatasi menyesuaikan jumlah penumpang. “Penumpang kita tidak terlalu besar. Sekarang sekitar 600 sampai 700 orang per hari di masa low season. Dari jumlah itu, hanya sekitar 10 sampai 30 persen yang menggunakan transportasi umum,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, pengelola bandara harus mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan layanan dan keberlangsungan operator transportasi yang sudah ada. “Kita harus jaga ekosistemnya. Jangan sampai nanti justru menimbulkan persaingan yang tidak sehat atau konflik di lapangan,” katanya.

Meski demikian, Agung memastikan peluang bagi angkutan online tetap terbuka selama mampu memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan, termasuk kejelasan sistem operasional dan integrasi dengan pengelolaan transportasi di bandara. “Kami tidak menutup peluang. Sepanjang semua persyaratan dipenuhi dan ada skema yang jelas, tentu bisa kita bahas lebih lanjut,” ujarnya.

Dia menambahkan, ke depan pihak bandara akan terus berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk merumuskan pola layanan transportasi yang ideal, termasuk kemungkinan keterlibatan angkutan online.

“Intinya kami ingin semua berjalan tertib, aman, dan nyaman bagi penumpang. Itu yang menjadi prioritas utama,” pungkasnya.

Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER