TARAKAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan mengungkap penyebab cepat penuhnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Juata Kerikil yang baru beberapa bulan beroperasi.
Kepala DLH Kota Tarakan, Andry Rawung, mengatakan sel awal yang dibangun memang memiliki kapasitas terbatas dan hanya dirancang untuk menampung sampah sekitar enam bulan operasional. “Sel yang pertama dibangun itu relatif kecil. Memang peruntukannya hanya untuk sekitar enam bulan,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).
Selain faktor kapasitas sel yang terbatas, tingginya volume sampah harian juga menjadi penyebab utama. Rata-rata sekitar 100 ton sampah masuk ke TPA Juata Kerikil setiap hari. “Dengan volume 100 ton per hari, tentu cepat terisi,” katanya.
Saat ini luas sel eksisting kurang lebih setengah hektare. Tahun ini pemerintah telah merencanakan penambahan sel baru sekitar satu hektare untuk mengantisipasi lonjakan volume sampah.
Menurut Andry, kondisi tersebut sudah diperhitungkan sejak awal. Karena itu, pembangunan perluasan sel telah dianggarkan dan ditargetkan segera terealisasi agar operasional tidak terganggu.
Meski demikian, dia menegaskan pengelolaan sampah ke depan tidak bisa hanya mengandalkan sistem penimbunan. DLH juga tengah mempertimbangkan inovasi pengurangan volume sampah agar daya tampung TPA lebih panjang. “Yang jelas kita berharap pembangunan sel tambahan bisa segera selesai, sambil terus mencari solusi jangka panjang,” jelasnya.
Dengan total kawasan TPA mencapai 50 hektare, pendekatan jangka panjang tetap dibutuhkan agar tidak seluruh area habis untuk sistem penimbunan. DLH pun tengah mempertimbangkan sejumlah inovasi, termasuk pengolahan sampah agar volume residu yang ditimbun bisa berkurang. “Yang jelas, kita terus berpikir bagaimana sampah ini bisa lebih tertangani dan tidak hanya ditumpuk,” ujarnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


