21 Dapur MBG di Tarakan Sudah Jalan, 46 Ribu Warga Tersentuh Program

TARAKAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tarakan terus berjalan dan menjangkau puluhan ribu warga. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 21 dapur telah beroperasi dan melayani berbagai kelompok sasaran.

Total penerima manfaat yang terdata mencapai sekitar 46 ribu orang. Angka tersebut mencakup kelompok 3B (balita, ibu hamil, ibu menyusui), peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, serta guru.

Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tarakan, Dewi, mengatakan pada tahap awal operasional, setiap dapur memiliki kapasitas maksimal sekitar 1.000 penerima manfaat.

“Pada awalnya kapasitas dapur kurang lebih 1.000 penerima manfaat. Seiring peningkatan kesiapan dapur dan tenaga pendukung, kapasitas ini bisa ditambah,” ujar Dewi, Senin (9/2/2026).

Meski demikian, ia mengakui masih ada sejumlah sekolah yang belum terlayani secara maksimal karena keterbatasan kapasitas dapur yang ada saat ini. “Masih ada beberapa sekolah yang belum tercover sepenuhnya. Ini karena kapasitas dapur memang masih terbatas,” jelasnya.

Menurutnya, penambahan jumlah dapur di Tarakan sangat memungkinkan. Namun, realisasinya masih menunggu kesiapan, terutama ketersediaan tenaga ahli gizi di beberapa dapur yang tengah berproses.

“Kami berpotensi menambah dapur, tetapi masih menunggu kesiapan tenaga ahli gizi. Beberapa dapur masih dalam tahap pemenuhan persyaratan tersebut,” katanya.

Penentuan jumlah penerima manfaat dilakukan berdasarkan wilayah layanan masing-masing dapur. Satu dapur melayani beberapa sekolah di sekitarnya. Jumlah guru penerima manfaat disesuaikan dengan data guru di sekolah yang terlayani.

Sementara untuk ibu hamil, pendataan dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), serta para kader di lapangan.

“Pendataan ibu hamil dilakukan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, BKKBN, dan kader. Data tersebut kemudian disesuaikan dengan wilayah layanan dapur,” terang Dewi.

Terkait penyusunan menu, Dewi menegaskan setiap dapur wajib memperhatikan standar kecukupan gizi. Perhitungan nilai gizi dilakukan oleh ahli gizi guna memastikan kualitas makanan tetap terjaga. “Menu disusun oleh masing-masing dapur, tetapi tetap dihitung nilai gizinya oleh ahli gizi agar sesuai standar,” tegasnya.

Untuk wilayah pesisir seperti Mamburungan dan sekitarnya, pelaksanaan MBG masih dalam tahap persiapan. Beberapa dapur telah mengajukan operasional, namun belum sepenuhnya berjalan. “Wilayah pesisir masih dalam proses. Ada beberapa dapur yang sudah mengajukan, tetapi belum operasional penuh,” katanya.

Berdasarkan petunjuk teknis terbaru, idealnya satu dapur mampu melayani hingga 3.000 penerima manfaat. Namun, penerapannya tetap disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing dapur agar distribusi berjalan optimal.

Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER