TARAKAN – Fenomena perilaku menyimpang remaja, termasuk isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) yang mulai mencuat di Tarakan, mendapat perhatian Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalimantan Utara.
Organisasi ini menawarkan pendekatan edukatif melalui program “Friday Intimate” sebagai langkah pencegahan berbasis sekolah.
Ketua Pemuda ICMI Kaltara, dr. Muhamad Ihya Ulumuddin Rahawarin, menilai remaja berada pada fase krusial pencarian identitas yang sangat rentan terpengaruh lingkungan dan paparan konten digital, termasuk konten seksual yang tidak sesuai usia.
“Paparan konten seksual, termasuk yang bersifat menyimpang, berisiko menimbulkan kebingungan identitas, gangguan mental, hingga perilaku berisiko di kemudian hari,” kata Ihya, Minggu (11/1/2026).
Menurutnya, kekhawatiran yang disuarakan berbagai pihak terkait isu LGBT di kalangan pelajar perlu disikapi secara bijak dan preventif, bukan dengan stigma atau pengucilan.
“Ini bukan soal menghakimi. Ini soal melindungi anak-anak agar tumbuh sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual,” tegasnya.
Sebagai bentuk kontribusi nyata, Pemuda ICMI Kaltara menggagas program Friday Intimate, yakni ruang edukasi dan dialog yang digelar rutin setiap Jumat di sekolah-sekolah. Program ini sudah dilaksanakan pada Jumat (9/1/2026) di SMA 1 NU Tarakan dan mendapatkan antusias dari pelajar.
Lebih lanjut dijelaskannya, program ini dirancang untuk memperkuat karakter, literasi kesehatan reproduksi, ketahanan mental, serta kemampuan remaja menyaring informasi digital.
“Kami mendorong kolaborasi sekolah, orang tua, tokoh agama, dan tenaga profesional. Pencegahan terbaik adalah edukasi yang benar dan pendampingan yang empatik,” ujarnya.
Pemuda ICMI berharap pendekatan edukatif ini dapat menjadi alternatif solusi dalam merespons fenomena LGBT di kalangan remaja, sekaligus menjaga masa depan generasi muda Tarakan tanpa menciptakan stigma sosial. Namun dokter spesialis bedah ini menegaskan bahwa LGBT merupakan perilaku menyimpang karena pertimbangan sosial, budaya, dan agama yang berlaku di Indonesia. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


