TARAKAN – Sektor kelapa sawit dinilai masih menjadi motor andalan sekaligus penggerak utama ekonomi Kalimantan Utara (Kaltara), khususnya melalui penguatan perkebunan sawit rakyat.
Peningkatan produktivitas, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), kepastian harga, hingga legalitas lahan disebut menjadi faktor penentu agar potensi sawit dapat dimaksimalkan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara, Heri Rudiyono, mengatakan sawit menempati urutan pertama komoditas pertanian dari sisi kontribusi ekonomi. Dia mencontohkan, secara teori petani sawit dengan lahan 1 hektare bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp2 juta setiap dua pekan atau sekitar Rp4 juta per bulan.
“Kalau petani punya 10 hektare, berarti bisa sekitar Rp40 juta per bulan. Supaya itu terus berkelanjutan, salah satunya SDM-nya harus ditingkatkan, bagaimana mengelola sawit agar produksinya tetap tinggi,” ujar Heri ditemui usai Pengukuhan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kaltara, di Hotel Lotus Tarakan, Kamis (8/1/2026).
Dia menyebut luas perkebunan sawit di Kaltara mencapai sekitar 500 ribu hektare, terdiri dari kebun rakyat dan perusahaan. Saat ini terdapat 57 perusahaan besar dan sekitar 19 pabrik kelapa sawit yang tersebar di sejumlah daerah. DPKP Kaltara juga mendorong petani sawit mandiri untuk tergabung dalam kelompok tani. Selain itu, pemerintah berencana membentuk asosiasi khusus petani sawit plasma agar pembinaan lebih terarah.
“Ke depan akan ada dua fokus, petani sawit mandiri dan petani plasma. Kita juga akan bersinergi dengan APKASINDO, termasuk untuk mengakses program BPDPKS,” katanya.
Adapun sentra perkebunan sawit di Kaltara tersebar di Kabupaten Nunukan, Bulungan, dan Kabupaten Tana Tidung (KTT).
Sementara itu, Ketua DPW APKASINDO Kaltara, Muhammad Khoiruddin, menilai sawit masih menjadi komoditas strategis yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau dikelola dengan baik, sawit bisa menjadi motor ekonomi Kaltara. Tapi harus dibarengi peningkatan produktivitas dan kapasitas petani,” kata Khoiruddin.
Dia menilai produktivitas kebun sawit rakyat masih berpeluang ditingkatkan melalui peremajaan tanaman, penggunaan bibit unggul, serta pendampingan teknis berkelanjutan. Pemanfaatan program Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), seperti beasiswa dan pelatihan, juga dinilai penting untuk menyiapkan petani yang lebih profesional. Selain produktivitas, aspek harga menjadi perhatian serius. Khoiruddin menegaskan pentingnya mekanisme penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang transparan dan adil.
“Petani harus dilibatkan aktif dalam penetapan harga supaya tidak ada kesenjangan,” ujarnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


