Rokok hingga Sanitasi Picu Kenaikan Stunting di Tarakan

TARAKAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mengungkap penyebab meningkatnya angka stunting pada 2025. Salah satu faktor utama yang ditemukan adalah kebiasaan merokok di lingkungan keluarga serta buruknya sanitasi.

Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), angka stunting di Tarakan naik dari 3,8 persen pada 2024 menjadi 4,4 persen pada 2025.

“Data real di lapangan kita gunakan e-PPGBM. Tahun 2024 itu 3,8 persen, dan tahun 2025 yang kita publikasikan kemarin 4,4 persen,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Tarakan, Paulina Bura, Senin (5/1/2026).

Sementara itu, untuk data pembanding nasional, Dinkes Tarakan masih mengacu pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang mencatat angka stunting Tarakan sebesar 12,6 persen. Pada 2025, survei SSGI tidak dilakukan. “Untuk 2025 tidak ada SSGI. Informasinya survei dilakukan dua tahun sekali, tapi kita belum tahu pasti,” ujarnya.

Paulina menjelaskan, berdasarkan analisis faktor determinan, penyebab terbesar stunting di Tarakan justru berasal dari faktor sensitif atau di luar sektor kesehatan.

“Faktor determinan paling tinggi itu faktor sensitif. Yang paling banyak kita temukan adalah kebiasaan merokok,” jelasnya.

Paparan asap rokok di rumah berdampak langsung pada kesehatan anak. Menurut Paulina, anak yang terpapar asap rokok lebih rentan sakit sehingga nafsu makan menurun dan berat badan ikut turun.

“Kalau lingkungan ada yang merokok, anak otomatis terpapar. Kekebalan tubuhnya turun, cepat sakit, dan berat badannya bisa turun,” katanya.

Selain rokok, persoalan sanitasi juga menjadi penyumbang stunting, khususnya kepemilikan jamban sehat. Di beberapa wilayah lokus stunting seperti Amal, Sulumit Pantai, dan Juata Laut, masih ditemukan rumah tanpa septic tank. “Ini sangat berpengaruh terhadap kejadian stunting,” ungkap Paulina.

Faktor lain yang turut berkontribusi adalah rendahnya tingkat pendidikan ibu serta pernikahan dini, terutama di wilayah pesisir. “Banyak ibu yang baru tamat SMP sudah menikah. Usianya masih sangat muda sehingga kesiapan pengasuhan dan gizinya belum optimal,” ujarnya.

Wilayah pesisir menjadi kawasan dengan temuan stunting tertinggi, seperti Tarakan Timur, Amal, Sulumit Pantai, Karang Anyar Pantai, dan Juata. Menanggapi kenaikan tersebut, Dinkes Tarakan menegaskan bahwa penurunan stunting tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan.

“Intervensi kesehatan itu kontribusinya hanya sekitar 30 persen. Yang paling besar justru intervensi sensitif lintas sektor,” tegas Paulina.

Intervensi tersebut meliputi pengendalian rokok, perbaikan sanitasi, serta pencegahan pernikahan dini melalui sektor pendidikan dan keagamaan.

Dinkes Tarakan juga menjalankan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita gizi kurang, balita dengan berat badan tidak naik, serta ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK). “PMT diberikan setiap hari, termasuk hari Minggu. Bentuknya kudapan padat gizi,” katanya.

Meski demikian, tantangan terbesar masih rendahnya kunjungan posyandu. “Kalau kunjungan posyandu bisa 100 persen, stunting bisa dicegah sejak awal. Tapi banyak yang tidak datang, tahu-tahu sudah stunting dan itu sulit disembuhkan,” pungkas Paulina. (apc/and)

Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER