TARAKAN – Penanganan stunting di Kota Tarakan masih menghadapi tantangan serius, khususnya di kawasan pesisir. Tingginya mobilitas dan perpindahan penduduk membuat pemantauan tumbuh kembang anak tidak berjalan optimal, meski prevalensi stunting di Tarakan masih berada di bawah angka nasional.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, dr. Devi Ika Indriati, menjelaskan bahwa sebagian besar kasus stunting masih ditemukan di wilayah pesisir seperti Pantai Amal dan Selumit Pantai. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika sosial masyarakat pesisir yang cenderung berpindah-pindah tempat tinggal.
“Mobilitas di wilayah pesisir cukup tinggi. Anak yang sudah terdata dalam sistem kadang sudah tidak lagi berada di alamat awal saat petugas turun melakukan verifikasi,” ujar Devi, Senin (29/12/2025).
Ia menjelaskan, data stunting yang tercatat dalam sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPBGM) bersifat by name dan by address. Namun di lapangan, perubahan domisili yang cepat kerap menyulitkan petugas kesehatan memastikan kondisi anak secara berkelanjutan.
Selain persoalan mobilitas, tingkat kunjungan ke posyandu di kawasan pesisir juga belum sepenuhnya optimal. Sebagian orang tua belum rutin membawa anak untuk ditimbang dan diukur tinggi badannya setiap bulan, sehingga potensi stunting tidak terdeteksi sejak dini.
Padahal, pemantauan rutin melalui posyandu menjadi kunci pencegahan stunting. Pengukuran berat dan tinggi badan secara berkala dapat mendeteksi kekurangan energi kronis sebelum berkembang menjadi stunting permanen.
Jika hasil verifikasi menunjukkan anak benar mengalami stunting, Dinas Kesehatan akan memberikan intervensi langsung berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal serta pendampingan pola makan dan asupan gizi.
Namun, intervensi tersebut sulit berjalan maksimal apabila keluarga berpindah tempat sebelum proses pendampingan selesai. “Kami fokus pada intervensi dini, terutama pada lima tahun pertama kehidupan anak yang merupakan masa emas pertumbuhan,” jelas Devi.
Ia menegaskan, stunting tidak bisa diperbaiki secara instan dari sisi tinggi badan. Namun, penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah dampak lanjutan terhadap perkembangan kecerdasan anak yang dapat memengaruhi prestasi belajar dan masa depan.
Saat ini, prevalensi stunting di Kota Tarakan tercatat sekitar 4,58 persen dari anak baduta yang diperiksa. Angka tersebut terus diperbarui setiap bulan, meski tidak dirinci secara detail untuk menghindari kesalahan data. Dinas Kesehatan memastikan kawasan pesisir tetap menjadi fokus utama dalam upaya pengendalian stunting di Tarakan.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


