Kaltara Punya Fasilitas Penyimpanan dan Regasifikasi LNG Pertama di Indonesia

TARAKAN – Fasilitas penyimpanan dan regasifikasi Liquefied Natural Gas (LNG) di kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) resmi beroperasi.  Proyek ini menjadi yang pertama di Indonesia, yang seluruh sumber gasnya berasal dari produksi daerah sendiri, yaitu dari PT Kayan LNG Nusantara di Kalimantan Utara.

Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang menyebut proyek ini sebagai langkah penting menuju kemandirian energi di wilayahnya. “Gas yang digunakan berasal dari perusahaan lokal. Ini kebanggaan sekaligus tonggak baru bagi Kaltara,” ujarnya, Senin (13/10/2025).

Direktur Utama PLN Energi Gas Indonesia (EGI), Rakhmad Dewanto, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan pilot project nasional pertama, yang mengintegrasikan seluruh rantai pasok LNG, mulai dari produksi, pengiriman, penyimpanan, hingga regasifikasi yakni proses mengubah LNG kembali menjadi gas alam di bawah koordinasi penuh PLN Group.

Gas alam cair yang diproduksi dari Kilang Mini LNG Kayan, dikirim menggunakan ISO Tank melalui jalur laut menuju Pelabuhan Malundung Tarakan, lalu diangkut dengan truk ke fasilitas regasifikasi sejauh sekitar 5,3 kilometer.

Gas hasil regasifikasi kemudian disalurkan ke dua pembangkit listrik, yaitu PLTMG Gunung Belah dengan kapasitas 16,6 megawatt (MW) dan PLTG Kampung Satu berkapasitas 14 MW, guna memperkuat sistem kelistrikan di Kota Tarakan dan sekitarnya.

Rakhmad menambahkan, fasilitas ini menjadi bukti bahwa infrastruktur LNG skala kecil dapat dioperasikan secara efisien dan aman di wilayah kepulauan. “Model ini bisa direplikasi di daerah lain yang menghadapi tantangan serupa,” katanya.

Secara ekonomi, fasilitas dengan kapasitas regasifikasi 5 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) atau sejuta kaki kubik standar gas per hari ini, mampu menggantikan sekitar 140 ribu liter BBM per hari, serta menekan biaya bahan bakar hingga 35 persen dibandingkan penggunaan diesel.

PLN juga mencatat efisiensi biaya operasi pembangkit mencapai sekitar Rp14 miliar per tahun. Tak hanya berdampak pada efisiensi energi, proyek ini juga memberi manfaat sosial dengan memberdayakan masyarakat lokal. Sekitar 65 persen tenaga kerja yang terlibat berasal dari Tarakan.

“Gasifikasi Tarakan menjadi bukti nyata bahwa transisi energi bersih, peralihan dari bahan bakar fosil ke energi yang lebih ramah lingkungan sudah berjalan di lapangan, bukan hanya sebatas rencana,” tutur Rakhmad.

Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER