TANA TIDUNG – Pemerintah Kabupaten Tana Tidung terus menunjukkan komitmennya dalam upaya percepatan penurunan angka stunting. Salah satunya dengan menggelar kegiatan Safari Gizi di Kecamatan Sesayap Hilir yang dipusatkan di Balai Adat Desa Seludau, belum lama ini.
Program Safari Gizi menjadi salah satu langkah nyata yang dijalankan Pemkab Tana Tidung melalui Dinas Kesehatan, dalam rangka memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada masyarakat terkait pentingnya pemenuhan gizi seimbang.
Kegiatan ini tidak hanya ditujukan kepada para orang tua bayi dan balita, tetapi juga menyasar ibu hamil yang sedang berada dalam fase penting 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak.
Melalui pendekatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), para peserta mendapatkan penjelasan langsung dari tenaga ahli, yakni psikolog dan dokter spesialis anak, mengenai pola asuh yang tepat, pentingnya pemberian ASI eksklusif, serta cara memenuhi kebutuhan gizi harian anak sesuai usia.
Edukasi ini diharapkan dapat membantu orang tua lebih memahami bagaimana mencegah risiko stunting sejak dini.
Selain sesi penyuluhan, safari gizi juga dirangkai dengan pembagian bantuan berupa bahan makanan pokok, Pangan Olahan Keperluan Medis Khusus (PKMK) bagi balita stunting, serta multivitamin untuk balita dan ibu hamil. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan langsung, agar keluarga memiliki akses terhadap kebutuhan gizi yang lebih baik.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tana Tidung, Mohamad Sarif. Ia hadir bersama sejumlah unsur forkopimda dan organisasi masyarakat, antara lain perwakilan Polres Tana Tidung, Persit Kodim 0914 Tana Tidung, Bhayangkari, TP PKK Kabupaten dan Kecamatan Sesayap Hilir, KUA, para kepala desa, hingga kader posyandu.
Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan, bahwa upaya menekan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Melalui kegiatan hari ini, kami ingin para peserta mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang bagaimana memastikan asupan gizi anak terpenuhi dengan baik, bagaimana menerapkan pola asuh yang tepat, serta pentingnya menjaga kesehatan ibu hamil dan bayi,” ujar Sarif.
Menurutnya, 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan periode emas yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak di masa depan. Apabila kebutuhan gizi dan kesehatan di fase ini tidak tercukupi, maka dampaknya bisa berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.
Oleh karena itu, Sarif menekankan perlunya komitmen bersama dari seluruh pihak, baik pemerintah, organisasi masyarakat, maupun keluarga, untuk terlibat aktif dalam mencegah dan menurunkan angka stunting di Tana Tidung.
“Melalui safari gizi ini kita berharap ada langkah konkret dari semua stakeholder untuk bergerak, berkolaborasi, dan mengambil bagian aktif dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan unggul. Inilah bagian dari upaya kita bersama menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.(*)
Penulis: Martinus
Editor: Yusva Alam


