80 Siswa Jadi Angkatan Perdana, SNT 11 Tarakan Fokus Cetak SDM Unggul

TARAKAN – Sebanyak 80 siswa menjadi angkatan perdana Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 11 Tarakan. Mereka tidak hanya dipersiapkan untuk mengejar prestasi akademik, tetapi juga dibina berdasarkan bakat, minat dan potensi masing-masing.

SNT 11 Tarakan saat ini mulai menjalankan kegiatan pembelajaran setelah seluruh siswa mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sejak awal, sekolah menempatkan pengembangan potensi peserta didik sebagai bagian penting dalam membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang mampu bersaing secara nasional maupun global.

Kepala SNT 11 Tarakan, Friny Napasti, mengatakan jumlah siswa bukan menjadi ukuran utama keberhasilan sekolah. Fokus SNT adalah memastikan setiap peserta didik mendapatkan pembinaan sesuai kemampuan dan potensinya.

“Tujuan utamanya menciptakan anak-anak yang berkarakter unggul dan berwawasan global. Karena itu, proses penerimaan dilakukan melalui sistem seleksi yang cukup ketat,” kata Friny dikonfirmasi, Kamis (13/8/2026).

Sebelum diterima sebagai siswa, 80 peserta didik tersebut telah melewati rangkaian seleksi selama sekitar satu pekan. Seleksi dilakukan oleh tim transisi SNT di bawah Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalimantan Utara.

Tahapannya dimulai dari pendaftaran dan seleksi administrasi, kemudian dilanjutkan dengan tes potensi akademik, bakat, minat serta kemampuan skolastik.

“Seleksinya selama satu minggu dilakukan oleh tim transisi Sekolah Nasional Terintegrasi di bawah BPMP Kaltara. Mereka mengikuti pendaftaran awal, kemudian seleksi, ada tes potensi akademik, tes bakat dan skolastik, kemudian dilanjutkan dengan pengumuman,” jelasnya.

Menurut Friny, calon siswa juga harus memenuhi persyaratan administrasi berupa rata-rata nilai rapor minimal 80 selama lima semester. Prestasi yang pernah diraih peserta didik turut menjadi bagian dari penilaian.

Namun, SNT tidak hanya mencari siswa dengan nilai akademik tinggi. Sistem seleksi juga diarahkan untuk menemukan anak-anak yang memiliki bakat di bidang sains dan teknologi, seni maupun olahraga.

“Memang murni kita berharap benar-benar menemukan anak-anak yang unggul, anak-anak yang siap dikembangkan potensinya,” ujarnya.

Proses seleksi juga dilakukan secara daring melalui sistem yang dibangun Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sekolah di daerah menjalankan tahapan yang telah ditentukan, sementara keputusan akhir peserta yang dinyatakan lolos berada di tingkat kementerian.

“Semua harus di-input dalam sistem yang dibangun sendiri oleh Kemendikdasmen. Proses memang dilakukan di daerah, dalam hal ini Tarakan, tetapi keputusan akhirnya ada di kementerian,” katanya.

Pola tersebut, lanjut Friny, menjadi bagian dari upaya menjaga proses penerimaan peserta didik tetap transparan dan objektif. Peserta mengikuti seluruh tes melalui sistem sehingga ruang untuk intervensi maupun rekayasa hasil dapat diminimalkan.

Setelah diterima, pengembangan siswa akan dilakukan secara berkelanjutan. Sekolah akan memetakan bakat dan minat setiap peserta didik untuk menentukan pola pembinaan yang sesuai.

Friny menyebut konsep tersebut sebagai pathway prestasi anak. Sejak awal masuk, siswa akan diarahkan berdasarkan potensi yang dimiliki.

“Sejak dia masuk, kami sudah melakukan tes bakat, kami temukan apa yang menjadi bakat dan minat mereka, kemudian kami kembangkan,” tuturnya.

Pengembangan tersebut tidak hanya berlangsung di ruang kelas. SNT 11 Tarakan nantinya diproyeksikan memiliki berbagai fasilitas pendukung, mulai dari laboratorium Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), sarana olahraga, studio seni hingga auditorium.

Sekolah juga direncanakan memiliki kolam renang, lapangan sepak bola dan jogging track. Fasilitas tersebut disiapkan untuk mendukung siswa yang memiliki potensi nonakademik.

“Jadi SNT ini memang memfasilitasi semua anak berbakat, tidak hanya akademik dalam hal mata pelajaran, sains, teknologi, tapi juga untuk anak-anak yang berbakat di seni dan olahraga,” ungkapnya.

Meski mengusung pendidikan berwawasan global, SNT 11 Tarakan tetap akan membawa unsur kearifan lokal. Lokasi sekolah di Mamburungan menjadi salah satu dasar dalam pengembangan muatan lokal.

Salah satunya melalui pembelajaran konservasi wilayah pesisir. Selain itu, sekolah berencana memasukkan Bahasa Tidung serta pengenalan pengolahan hasil alam dan buah-buahan khas Tarakan.

“Kita karena letaknya di Mamburungan, ada konservasi wilayah pesisir. Muatan lokalnya rencana kami ada Bahasa Tidung dan pengolahan hasil alam di Tarakan seperti buah-buahan khas,” beber Friny.

Untuk siswa SMA, pemetaan potensi juga akan diarahkan pada rencana pendidikan setelah lulus. Siswa yang menargetkan kuliah di luar negeri akan mulai dipersiapkan sejak dini, termasuk untuk menghadapi tes seperti Scholastic Assessment Test (SAT) dan International English Language Testing System (IELTS).

“Di SMA sudah kami petakan anak ini mau melanjutkan ke mana. Kalau mau ke luar negeri, sudah dipersiapkan apa yang harus mereka siapkan,” katanya.

Sekolah juga akan mendorong siswa berprestasi memanfaatkan peluang beasiswa, termasuk Beasiswa Garuda. Namun, Friny menegaskan peluang tersebut tetap berdasarkan sistem merit dan melalui seleksi.

“Beasiswa Garuda diperuntukkan bagi anak-anak yang mau melanjutkan ke luar negeri dan punya prestasi. Tapi sekali lagi semuanya sistem merit, artinya ada seleksi,” pungkasnya.

Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER