TARAKAN – Pemerintah Kota Tarakan menargetkan kebutuhan 17 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun hingga saat ini, baru dua dapur yang beroperasi, termasuk yang baru saja diresmikan di SDN 024 Kelurahan Karang Anyar, Senin (4/8/2025).
Dapur MBG di Karang Anyar ini menjadi dapur kedua setelah dapur SPPG pertama yang ada di wilayah Kelurahan Juata. Wali Kota Tarakan, Khairul, mengatakan dapur ini melayani tiga sekolah, yakni SDN 024, SMP 2, dan SMA 1.
“Dengan jumlah total 2.827 siswa yang dilayani oleh dapur MBG SPPG Karang Anyar,” ujarnya.
Dia berharap agar dapur SPPG lainnya segera menyusul beroperasi, mengingat kebutuhan yang masih besar.
“Sehingga harapan kami dari pemerintah kota, pemerintah-pemerintah dari semua kita di sini, dari Forkopimda dan tentu juga anak-anak kita, mengharap mudah-mudahan semuanya bisa berjalan cepat. Sehingga mereka bisa menikmati program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah pusat,” paparnya.
Khairul menjelaskan, lambannya pengoperasian sejumlah SPPG disebabkan proses verifikasi dan validasi dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang masih berlangsung. Dia menegaskan bahwa kewenangan sepenuhnya berada di pemerintah pusat.
“Semuanya ini dapur mana yang lolos, dan rumah yang tidak lolos itu semuanya tergantung dari pusat dari BGN,” tambahnya.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap memberikan dukungan di lapangan jika ada kendala teknis yang dihadapi.
“Kami hanya membantu di sini kalau misalnya ada masalah di lapangan, atau ada temuan-temuan, atau ini yang mereka butuh fasilitasi dari kami, kami bantu,” jelasnya.
Secara lokasi, hampir seluruh kecamatan di Tarakan telah memiliki calon dapur SPPG, namun masih menunggu proses verifikasi BGN.
Disinggung terkait ketersediaan susu dalam menu MBG, Khairul mengatakan tidak diwajibkan karena Tarakan bukan daerah penghasil susu.
“Karena Tarakan ini kan bukan menghasil susu, makanya boleh ditiadakan. Jadi yang penting kan sudah ada nasi sebagai sumber karbohidrat, ada ayam, atau telur, atau ikan sebagai proteinnya, ada sayuran, lalu ada buah,” terangnya.
Dia pun mengakui bahwa jumlah dapur SPPG masih jauh dari cukup, meskipun sudah ada sejumlah calon lokasi yang siap menunggu verifikasi.
“Sedang menunggu. Sekarang mereka sudah siap, ya. Cuman kan mungkin ada standar-standar, mungkin nanti setelah ada dievaluasi oleh BGN, mungkin ada lagi yang kurang, ya disuruh perbaiki, mungkin sampai belum ada standar,” tutupnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


