TARAKAN – Kondisi Koperasi Merah Putih (KMP) di Kota Tarakan kembali jadi sorotan. Meski sudah diresmikan beberapa bulan lalu, sebagian besar koperasi ini justru kesulitan berkembang. Dari 5 KMP yang telah diluncurkan, 3 di antaranya dilaporkan tidak lagi aktif. Sementara 15 kelurahan lainnya masih berada di bawah binaan DKUKMP Tarakan.
Minimnya permodalan hingga dugaan persaingan dagang dengan program pasar murah pemerintah disebut menjadi penyebab KMP tidak berjalan optimal.
Ketua DPRD Tarakan, Muhammad Yunus, mengaku prihatin dengan situasi tersebut. Pihaknya berencana menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan instansi terkait dan pengurus KMP untuk mencari jalan keluar.
“Dalam waktu dekat kami akan lakukan RDP. Pemerintah daerah juga harus bisa membantu agar KMP tetap hidup,” kata Yunus, Minggu (23/11/2025).
Yunus menyoroti isu yang berkembang di lapangan soal agenda pasar murah yang disebut menjual barang di bawah harga modal koperasi.
“Ini harus dilihat regulasinya. Apakah program KMP dapat dukungan pemerintah atau tidak. Instansi terkait nanti akan kami undang,” tambahnya.
Dia juga menjelaskan bahwa belum tersalurkannya bantuan permodalan dari pemerintah pusat melalui bank Himbara disebabkan syarat yang belum terpenuhi, salah satunya lokasi permanen koperasi. Di Tarakan, ketersediaan lahan menjadi masalah tersendiri.
“KMP ini program nasional, daerah hanya mengawasi. Anggaran turun setelah kantor koperasi dibangun. Masalahnya, cari lokasi di setiap kelurahan itu tidak mudah,” jelasnya.
DPRD berencana mengundang seluruh koperasi aktif untuk menjaring masukan terkait solusi lokasi maupun mekanisme agar permodalan dari pusat bisa disalurkan. Salah satu usulan yang muncul yakni memanfaatkan bangunan tidak terpakai sebagai kantor koperasi.
Di sisi lain, Yunus menyoroti terbatasnya komunikasi antara pemerintah daerah dan kementerian terkait. Program nasional, menurutnya, sering berjalan tanpa koordinasi langsung dengan pemda.
“Kendala kita itu komunikasi ke kementerian. Mereka punya satgas sendiri, sehingga daerah sulit menyampaikan masukan,” pungkasnya. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


