Pengamat Ekonomi Prediksi Perekonomian Kaltara Melambat

TARAKAN – Pengamat ekonomi sekaligus Direktur Politeknik Bisnis Kaltara, Dr. Ana Sriekaningsih memprediksi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara (Kaltara) akan mengalami perlambatan pada tahun ini. Meski tetap tumbuh positif, laju pertumbuhannya diperkirakan tidak secepat tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, perlambatan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan internal, mulai dari ketegangan geopolitik global hingga kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.

“Pertumbuhan ekonomi Kaltara tidak akan secepat tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu bisa tumbuh sekitar lima persen, tahun ini tetap tumbuh positif tetapi melambat,” ujar Ana, Sabtu (12/7/2025).

Ana menjelaskan, perang dagang antara Amerika Serikat dan China, konflik Iran-Israel, serta ketidakpastian global turut memengaruhi permintaan dan harga komoditas ekspor seperti batu bara. Penurunan harga batu bara secara langsung berdampak pada pendapatan daerah karena sektor tambang menjadi salah satu andalan ekspor Kaltara.

“Penurunan harga komoditas sangat berhubungan dengan pendapatan daerah. Selain itu, permintaan juga tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Di dalam negeri, kebijakan efisiensi anggaran juga disebut Ana sebagai salah satu faktor yang menekan pertumbuhan ekonomi. Hal ini berdampak langsung pada belanja pemerintah daerah dan daya dorong APBD terhadap pertumbuhan ekonomi lokal.

Meski demikian, sektor investasi dinilai masih menunjukkan tren positif. Beberapa proyek strategis nasional, kawasan ekonomi khusus (KEK), serta industri baru yang dibangun di Kaltara membawa dampak baik terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

“Investasi masih baik, berdampak pada meningkatnya kebutuhan bahan pokok, menggeliatnya produk lokal, serta penyerapan tenaga kerja lokal,” katanya.

Ana juga menyoroti peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai penopang ekonomi lokal. Namun ia mengingatkan, UMKM skala besar menghadapi tantangan daya saing yang tinggi dengan produk-produk bermerek.

“UMKM besar harus bersaing dengan produk yang sudah punya brand kuat. Itu tantangan kita,” tegasnya.

Sementara UMKM skala kecil, seperti kedai kopi atau usaha makanan, menurut Ana lebih mampu bertahan di tengah tekanan karena melayani kebutuhan domestik dan berbasis lokal. Namun, mereka tetap perlu melakukan diversifikasi produk dan pelayanan agar bisa mempertahankan pasar.

“Contohnya kafe-kafe di Tarakan. Selama mereka bisa menjaga produk dan pelanggannya, mereka tetap bisa eksis,” ujarnya.

Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, Ana meyakini daya beli masyarakat Kaltara masih ada, meskipun cenderung lebih selektif. Kebutuhan pokok tetap menjadi prioritas dibandingkan kebutuhan sekunder seperti barang mewah.

“Daya beli masih ada, tapi masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan utama,” pungkasnya. (apc/and)

Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER