Menhut: Mangrove Kaltara Kunci Kelestarian Lahan Basah

TARAKAN – Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, menekankan pentingnya mangrove Kaltara sebagai kunci kelestarian lahan basah saat kunjungan ke Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Tarakan, Jumat (6/2/2026). Kunjungan ini bagian dari peringatan Hari Lahan Basah Sedunia 2026.

Dalam kesempatan itu, Menhut menyoroti peran kearifan lokal masyarakat dalam menjaga lahan basah. “Pengetahuan modern dan riset sudah banyak membantu, tapi tradisional knowledge atau kearifan lokal juga sangat penting untuk kita akui sebagai bagian dari ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Menhut mencontohkan pemahaman masyarakat lokal terhadap sistem pasang surut, pola migrasi burung, dan pertanian lahan basah sejak zaman nenek moyang. Dia mendorong pengetahuan ini diinstitusionalisasi melalui universitas dan lembaga riset.

Dia juga menekankan bahwa Indonesia, sebagai anggota Konvensi Ramsar dengan delapan titik lahan basah terdaftar, memiliki peran strategis. “Mangrove bukan hanya tanah basah, tapi sumber biodiversitas tinggi, ekonomi, dan penyerapan karbon. Dua pertiga hutan mangrove dunia ada di Indonesia,” kata Menhut.

Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang menambahkan, KKMB Tarakan yang luasnya 22 hektare memiliki 15 jenis mangrove dan menjadi habitat 42 ekor bekantan. Kawasan ini juga menjadi penopang ekonomi lokal sekaligus benteng alam.

Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia di KKMB Tarakan diharapkan memperkuat komitmen pusat dan daerah dalam melestarikan ekosistem mangrove sebagai aset ekologis dan ekonomi Kalimantan Utara.

Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER