spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ini Resep Kendalikan Inflasi dari Bank Indonesia Provinsi Kaltara

TARAKAN – Tahukah kamu bahwa Kaltara masuk dalam nominasi TPID terbaik se-Regional Kalimantan.  Hebatnya lagi, Kota Tarakan berhasil menjadi TPID Kota terbaik se-Regional Kalimantan yang diumumkan pada pelaksanaan Rakornas TPID, Kamis (31/8/2023) lalu.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara, Wahyu Indra Sukma mengatakan keberhasilan mengendalikan inflasi disebabkan karena menerapkan strategi berlandaskan 4K yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif

Selain itu, Bank Indonesia Kaltara aktif melaksanakan rakor TPID membahas progres pengendalian inflasi termasuk evaluasi roadmap dan upaya penurunan harga komoditas. Kemudian, melaksanakan GNPIP Provinsi Kalimantan Utara yang mencakup pemberian saprodi dan alsintan bagi gabungan kelompok tani, seminar hilirisasi.

Selanjutnya, menggelar pangan murah bersama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara untuk menjaga keterjangkauan harga dan ketersediaan pasokan serta asistensi Kunjungan TPIP ke TPID se-Provinsi Kaltara pada Senin (14/8/2023) lalu.

Wahyu menyebut inflasi pada Agustus 2023 masih tetap terjaga untuk kembali ke kisaran target 3±1 persen. “Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) gabungan 2 (dua) Kota IHK Provinsi Kalimantan Utara tercatat mengalami deflasi sebesar 0,10 persen (mtm) sehingga secara tahunan menjadi 3,29 persen (yoy),” ucap Wahyu Indra Sukma dalam keterangan tertulis yang diterima Kaltimtara, Sabtu (9/9/2023).

Baca Juga:   Bulog Klaim Kebutuhan Beras di Tarakan Aman Hingga 2,5 Bulan

Capaian tersebut, kata Wahyu, lebih rendah dari capaian nasional yang sebesar -0,02 persen (mtm) serta menjadikan pencapaian target inflasi menjadi lebih cepat dari prakiraan semula.

Deflasi gabungan 2 (dua) kota IHK Provinsi Kalimantan Utara terutama  didorong oleh Kelompok Transportasi yang tercatat memberikan andil deflasi sebesar 0,07 persen  (mtm) terutama pada komoditas angkutan udara (andil -0,07 persen (mtm)) akibat normalisasi aktivitas masyarakat pasca telah berakhirnya masa libur sekolah.

Sejalan dengan hal tersebut, deflasi pada bulan laporan juga didorong komoditas tomat (andil -0,10 persen  (mtm)) dan daging ayam ras (andil -0,06 persen (mtm)) akibat telah membaiknya pasokan terutama pada komoditas daging ayam ras.

Di sisi lain, deflasi pada Agustus 2023 tersebut tertahan oleh tekanan inflasi pada komoditas beras (0,09 persen (mtm)), cabai rawit (0,03 persen (mtm)) dan wortel (0,02 persen (mtm)).

“Meningkatnya tekanan inflasi pada komoditas beras sejalan dengan penurunan produktivitas pada daerah sentra produksi akibat kondisi cuaca El-Nino,” pungkasnya. (apc/and)

Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER