Gamalis Soroti Trans Kalimantan yang Tak Kunjung Terwujud: “Jangan Hanya Jadi Kajian Terus”

BERAU – Rencana pembangunan jalur kereta api Trans Kalimantan kembali menjadi sorotan setelah pemerintah pusat menyebut proyek tersebut masih berada pada tahap kajian.  Wakil Bupati Berau, Gamalis, menilai proyek strategis itu sudah terlalu lama bergulir sebagai wacana tanpa kepastian realisasi.

Menurutnya, pembangunan jaringan kereta api lintas Kalimantan seharusnya saat ini sudah memasuki tahapan pelaksanaan, bukan kembali dibahas pada level kajian awal. “Ini bukan barang baru. Ambisi ini sudah ada sejak masa kepemimpinan Pak Awang Faroek Ishak,” ujarnya.

Gamalis menjelaskan, gagasan pembangunan Trans Kalimantan telah muncul sejak era kepemimpinan Awang Faroek Ishak sebagai Gubernur Kalimantan Timur.

Bahkan, pada masa itu pemerintah daerah disebut telah melakukan berbagai langkah persiapan untuk mendukung pengembangan transportasi kereta api di wilayah Kalimantan.

Salah satu bentuk keseriusan yang dilakukan kala itu adalah menyiapkan sumber daya manusia di bidang perkeretaapian. Pemerintah, kata Gamalis, pernah mengirim putra-putri terbaik Kalimantan Timur ke Moscow, Rusia, guna menempuh pendidikan khusus terkait perkeretaapian.

“Anak-anak kita sudah banyak yang disekolahkan ke Rusia, ke Moskow, khusus belajar perkeretaapian. Saya salah satu yang hadir di Moskow waktu itu untuk memberikan kepastian,” katanya.

Tak hanya menyiapkan SDM, pemerintah daerah saat itu juga disebut telah mendukung berbagai kebutuhan proyek, termasuk fasilitas dan elemen pendukung lainnya. Namun, menurut Gamalis, kemungkinan terdapat pertimbangan bisnis dari pihak investor yang membuat proyek tersebut belum bergerak menuju tahap pembangunan.

“Tapi mungkin saja saya tidak tahu apakah pihak Rusia atau pihak investor merasa ini belum memiliki kesesuaian terkait masalah profit atau bagaimana. Kalau saya sih ya harus pesimis dan juga harus optimis,” tuturnya.

Pernyataan pemerintah pusat yang menyebut proyek Trans Kalimantan masih dalam proses kajian kembali memunculkan tanda tanya baginya. Ia menilai tahapan kajian semestinya telah dilakukan sejak komunikasi dan penjajakan dengan pihak Rusia dilakukan beberapa tahun lalu.

“Harusnya tidak lagi pada kajian, tapi pada sebuah realisasi. Kajian-kajian yang lama kan sudah pernah. Tentu ketika Pak Awang Faroek melakukan mediasi terkait perkembangan dengan Moskow itu tentu sudah melalui kajian,” tegasnya.

Menurut Gamalis, keberadaan jalur kereta api lintas Kalimantan memiliki potensi besar dalam mendukung konektivitas antarwilayah, mempercepat distribusi barang, hingga membuka akses ekonomi baru di daerah-daerah yang selama ini masih bergantung pada jalur darat dan sungai.

Selain itu, proyek tersebut juga diyakini dapat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang di tengah ketergantungan daerah terhadap sektor sumber daya alam.

Meski mengkritisi lambannya perkembangan proyek, Gamalis mengaku tidak mempermasalahkan apabila pemerintah kembali melakukan kajian ulang. Namun, ia berharap kajian tersebut benar-benar menghasilkan kepastian dan tidak hanya menjadi janji yang terus berulang bagi masyarakat Kalimantan Timur.

“Ya tidak apa-apa kalau memang harus ada kajian lagi. Mudah-mudahan kajian itu tidak memberikan harapan-harapan saja kepada masyarakat Kalimantan Timur,” pungkasnya. (adv)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER