TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan mengakui masih menghadapi keterbatasan alat pendeteksi gempa di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara).
Saat ini, hanya satu sensor gempa yang aktif beroperasi di Kota Tarakan, sementara kabupaten lain seperti Nunukan, Bulungan, Malinau, dan Tana Tidung belum memiliki alat seismik sama sekali.
Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, menyebutkan kondisi ini membuat pemantauan aktivitas gempa di Kaltara belum maksimal. “Idealnya sensor gempa itu ada di setiap kecamatan, supaya bisa membaca getaran dengan cepat dan akurat. Tapi sampai sekarang, kita baru punya satu di Tarakan,” jelas Khilmi, Selasa (11/11/2025).
Menurutnya, keterbatasan alat tersebut bukan tanpa sebab. Selain terkendala anggaran pengadaan, BMKG juga harus berhadapan dengan aksi vandalisme dan pencurian peralatan di lapangan. “Sudah beberapa kali terjadi pencurian panel surya dan baterai pada alat kami. Tercatat ada empat kasus vandalisme terhadap peralatan BMKG di Kaltara,” ungkapnya.
Akibat kejadian itu, sebagian alat tidak bisa berfungsi optimal dan proses pengumpulan data menjadi terganggu. “Padahal peralatan ini penting untuk keselamatan masyarakat, tapi masih ada yang mencuri. Kami harap masyarakat bisa ikut menjaga,” tambahnya.
Khilmi menegaskan, alat pemantau gempa tidak berfungsi untuk memprediksi kapan gempa akan terjadi, melainkan mencatat dan mengirimkan data getaran secara real-time, agar bisa dianalisis secepat mungkin.
“Jadi alat ini bukan untuk meramal gempa. Tapi kalau alatnya rusak atau hilang, data tidak bisa masuk, dan itu berpengaruh pada kecepatan informasi yang kami sampaikan,” tegasnya.
BMKG Tarakan terus berupaya memperkuat jaringan sensor di Kaltara, melalui usulan penambahan alat dan kerja sama lintas instansi. Namun, Khilmi mengingatkan, upaya tersebut perlu dukungan semua pihak, termasuk masyarakat, untuk menjaga sarana pemantauan yang ada.
“Kami sudah mengusulkan penambahan sensor ke pusat, tapi tentu kembali lagi ke ketersediaan anggaran. Sementara itu, mari sama-sama menjaga peralatan yang ada. Ini untuk kepentingan bersama,” ujarnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


