TARAKAN — Produksi sampah yang mencapai sekitar 130 ton per hari menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Tarakan.
Wali Kota Khairul, menegaskan perlunya langkah cepat untuk mengurangi tekanan lingkungan, mulai dari penguatan pengolahan sampah di tingkat kelurahan hingga perluasan ruang hijau di area rawan.
Saat menghadiri kegiatan penanaman pohon di TPA Juata Kerikil, Minggu (30/12/2025), Khairul menyampaikan bahwa TPA tidak dapat menjadi satu-satunya tumpuan dalam menangani volume sampah harian sebesar itu.
Dia menekankan pentingnya memaksimalkan Tempat Pengolahan dan Pemilahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TP3R) agar pembuangan ke TPA dapat ditekan.
“Kalau 130 ton per hari terus masuk ke TPA, tidak akan cukup. Harus dikurangi dari sumber, diolah, dipilah, terutama sampah organik yang bisa jadi kompos,” tegasnya.
Khairul juga meminta seluruh lurah serta perangkat daerah untuk lebih aktif mendorong partisipasi warga. Kebersihan lingkungan di kantor, perumahan, hingga fasilitas publik disebut sebagai bagian penting dalam meredam beban sampah kota.
Penghijauan menjadi langkah lain yang terus dikejar. Penanaman pohon di sekitar TPA disebut sebagai strategi jangka panjang untuk memperbaiki kualitas udara serta kondisi tanah di kawasan yang menjadi pusat pembuangan sampah. Pemerintah melibatkan Forkopimda dan perwakilan perusahaan untuk memperluas kontribusi lingkungan dari sektor lain.
Selain fokus di TPA, upaya penghijauan juga menyasar wilayah timur Tarakan melalui penanaman mangrove. Menurut Khairul, mangrove memiliki peran penting sebagai benteng alami pesisir sekaligus penyangga ekosistem yang rentan terganggu oleh aktivitas manusia dan perubahan iklim.
Dia menekankan bahwa keberhasilan upaya ini membutuhkan komitmen kolektif. “Menanam itu awal. Yang penting adalah merawat dan membuat gerakan ini berkelanjutan,” ujarnya.
Pemkot Tarakan menargetkan peningkatan tutupan hijau dan penguatan sistem pengolahan sampah sebagai strategi menghadapi tekanan lingkungan yang semakin kompleks, sekaligus menjadikan Tarakan lebih tangguh secara ekologis. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


