TARAKAN — Potensi banjir rob di pesisir Kota Tarakan mulai menunjukkan penurunan. Namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan memilih tetap mempertahankan kesiapsiagaan penuh, terutama pada titik-titik rawan yang sejak awal menjadi perhatian.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, mengatakan puncak banjir rob telah terjadi pada 5 Desember. Sejak itu, hasil analisis BPBD bersama BMKG menunjukkan tren penurunan tinggi air dan melemahnya potensi rob dalam beberapa hari ke depan.
“Dari analisis terakhir dengan BMKG, ketinggian air sudah menurun dan kecenderungannya terus melemah. Puncaknya memang tanggal 5 kemarin,” kata Yonsep saat ditemui, Sabtu, (7/12/2025).
Meski kondisi mulai normal, BPBD tetap menempatkan alat evakuasi dan personel di sejumlah lokasi strategis. Sedikitnya 32 personel dikerahkan, termasuk pejabat struktural, untuk memastikan respons cepat bila terjadi perubahan mendadak.
“Kendaraan evakuasi tetap standby. Perahu karet juga kami siapkan di dalam mobil agar bisa langsung dibawa ke lokasi prioritas,” ujarnya.
Kesiapsiagaan itu tidak berdiri sendiri. Yonsep menyebut koordinasi lintas instansi telah dilakukan sejak awal peringatan banjir rob dikeluarkan secara nasional dan daerah. BPBD berkoordinasi dengan Polres Tarakan, Kodim, Lanud, hingga Satradar. Pemantauan kondisi air dan kecepatan angin juga melibatkan pihak mercusuar.
“Rencana kontingensi sudah ada. Jika terjadi kondisi darurat, semua langsung terkoneksi berdasarkan renkon itu,” katanya.
Hingga kini, BPBD memastikan tidak ada laporan korban maupun kerusakan signifikan. Yonsep menilai masyarakat cukup antisipatif setelah adanya edaran pemerintah, termasuk dengan meninggikan barang-barang di rumah.
“Kami tetap standby, karena alam tidak bisa diprediksi sepenuhnya,” ujar Yonsep. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


