spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Abrasi Berlanjut, Puluhan Rumah Warga Terancam

NUNUKAN – Puluhan rumah warga di Rt 04, 05 dan 10 di Desa Atap, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan terancam akibat abrasi.

Diketahui, fondasi rumah warga terkikis akibat abrasi sungai. Warga setempat telah melakukan beragam cara, seperti melakukan penimbunan dengan beribu karung pasir dan mengalihkan aliran air, tetapi tidak menjawab persoalan dasar.

Persoalan ini, pernah diusulkan melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Desa, bahkan sudah bertahun-tahun. Tapi, hasilnya sampai sekarang nihil.

“Pemerintah dan BPBD sudah pernah tinjau ke lapangan, tapi sampai hari ini tidak kunjung ada hasilnya. Sementara, abrasi masih terus berlanjut,” keluh seorang ibu, melalui video resminya.

Warga setempat minta kepada pemerintah daerah, sebelum turap permanen dibangun, dibutuhkan upaya tindakan cepat dan darurat. Supaya, abrasi tidak terus-terusan terjadi.

Tahir, Kepala Desa Atap kala dikonfirmasi menuturkan persoalan abrasi di sungai Sembakung, telah dilakukan peninjauan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS). Hasil survei, penanganan dalam jangka pendek diperlukan pembangunan bronjong di titik abrasi.

Dimungkinkan, jika ada penanganan dalam waktu dekat oleh pemerintah, masyarakat sekitar bersedia mengerjakan secara swadaya atau gotong-royong. Titik abrasi di Sungai Sembakung mencapai 700 meter, jadi, rencana pengerjaan awal akan dibenahi sekitar 170 meter. ¬†“Pengerjaan secara bertahap, awalnya diusulkan yang 170 meter terlebih dahulu,” tuturnya.

Baca Juga:   Pemprov Kaltara Dorong Transformasi Digital Manajemen ASN

Sembari melihat kondisi rill di lapangan. Mengingat ini merupakan akhir tahun. “Kalau pengerjaan secara swadaya, untuk makan dan minum InsyaAllah saya selaku kepala desa bersedia,” ucapnya.

Penanganan dalam jangka pendek, berupa pembangunan bronjong. Dikatakan Tahir, jika pembangunan bronjong itu efektif dimungkinkan berlanjut tanpa adanya pembangunan secara permanen.

“Tapi, ini hanya baru bahasa secara lisan, belum ada keputusan yang sifatnya akurat,”tukasnya.

Abrasi yang terjadi di Sungai Sembakung sudah berlangsung lima tahun lalu. Awalnya, hanya 100 meter yang terkikis arus sungai, lambat laun karena minim penanganan,upaya penimbunan pasir dilakukan oleh warga setempat tidak menjadi solusi atas masalah yang terjadi.

Berdasarkan catatannya, setidaknya ada 10 rumah warga yang terdampak. Sedangkan masih ada bangunan lain yang ikut terancam, seperti sarang walet dan pohon tanam tumbuh lainnya. (tin/and)

Editor: Andhika

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER