Cabai Rawit Picu Inflasi Tarakan 0,26 Persen di September

TARAKAN – Kenaikan harga cabai rawit menjadi penyumbang terbesar inflasi di Kota Tarakan pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan mencatat inflasi bulanan atau month to month (mtm) sebesar 0,26 persen, yang sebagian besar dipicu naiknya harga komoditas pangan.

Kepala BPS Kota Tarakan Umar Riyadi mengatakan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi selama September. Kenaikan harga sejumlah bahan pangan, terutama cabai rawit, menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi bulan lalu.

“Pada September 2026, Kota Tarakan mengalami inflasi sebesar 0,26 persen secara month to month. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi,” kata Umar, Jumat (2/10/2026).

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi sebesar 0,28 persen. Sementara kelompok kesehatan, informasi, komunikasi dan jasa keuangan, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen.

Sebaliknya, kelompok transportasi menjadi satu-satunya kelompok yang menahan laju inflasi dengan mencatat deflasi sebesar 0,05 persen.

Dari sisi komoditas, cabai rawit menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil mencapai 0,2475 persen. Berikutnya telur ayam ras sebesar 0,0509 persen, jagung manis 0,0221 persen, cabai merah 0,0145 persen, dan soto sebesar 0,0125 persen.

Selain itu, kenaikan harga beras, tomat, laptop atau notebook, bawang merah, serta obat gosok juga ikut memberikan andil terhadap inflasi meski dalam porsi lebih kecil.

“Kalau kita lihat komoditasnya, cabai rawit memberikan andil paling besar terhadap inflasi September. Selain itu ada telur ayam ras, jagung manis dan cabai merah,” ujarnya.

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru menekan inflasi. Angkutan udara dan sawi hijau menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil masing-masing minus 0,0477 persen. Disusul bayam, kacang panjang, emas perhiasan, ikan kembung, bawang putih, besi beton, kangkung, hingga kunyit.

Secara kumulatif, inflasi Tarakan sepanjang Januari hingga September 2026 atau year to date (ytd) tercatat sebesar 1,79 persen. Sementara inflasi tahunan atau year on year (yoy) mencapai 2,82 persen.

Umar menjelaskan, inflasi bulanan Tarakan masih lebih rendah dibandingkan Kalimantan Utara yang mencapai 0,37 persen. Inflasi tahun kalender Tarakan sebesar 1,79 persen juga berada sedikit di bawah capaian provinsi sebesar 1,82 persen.

Namun, untuk inflasi tahunan, Tarakan tercatat lebih tinggi dibandingkan Kalimantan Utara. Hingga September 2026, inflasi tahunan Tarakan mencapai 2,82 persen, sedangkan provinsi berada di angka 2,56 persen.

Menurut Umar, perkembangan harga pada tiga bulan terakhir tahun ini akan menjadi penentu capaian inflasi Tarakan hingga akhir 2026. Karena itu, stabilitas harga komoditas pangan tetap menjadi faktor penting yang perlu dijaga. (apc/and)

Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER