TARAKAN – Dinas Perikanan Kota Tarakan mengimbau nelayan yang masih beraktivitas secara mandiri agar segera membentuk kelompok. Langkah itu dinilai penting agar nelayan lebih mudah mendapatkan pembinaan sekaligus mengakses program bantuan dari pemerintah.
Kepala Dinas Perikanan Kota Tarakan Ardiansyah mengatakan, saat ini sudah ada sekitar 167 hingga 170 Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang menaungi pelaku usaha perikanan di Tarakan. Jumlah tersebut belum termasuk kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan maupun kelompok pembudidaya ikan.
“Kalau kita punya kelompok KUB ini sudah lebih 100, sudah 167 sampai 170-lah. Itu baru berdasarkan keberadaan KUB. Di luar itu masih terdapat kelompok yang bergerak pada sektor pengolahan dan pemasaran hasil perikanan serta kelompok pembudidaya perikanan,” katanya, Minggu (4/9/2026).
Menurut Ardiansyah, jika seluruh kelompok tersebut digabungkan, jumlah pelaku usaha perikanan yang telah terorganisasi mencapai ribuan orang. Meski begitu, masih ada nelayan yang memilih menjalankan usahanya secara mandiri dan belum bergabung dalam kelompok.
Karena itu, Dinas Perikanan terus mendorong nelayan membentuk kelompok agar proses pendataan, pembinaan, hingga pemantauan dapat dilakukan lebih efektif.
“Kita sarankan memang untuk segera bikin kelompok supaya mudah kita pantau, kita bina,” ujarnya.
Dia menjelaskan, keberadaan kelompok bukan sekadar untuk kepentingan administrasi. Kelompok juga menjadi sarana bagi pemerintah untuk mengetahui kondisi nelayan di lapangan sekaligus menyalurkan berbagai program secara lebih tepat sasaran.
Ardiansyah menegaskan, bantuan pemerintah di sektor perikanan hanya dapat diberikan kepada kelompok, bukan kepada nelayan secara perorangan.
“Nanti kalau ada bantuan juga bisa sampai ke mereka. Karena bantuan itu harus kelompok, enggak boleh perorangan. Perorangan kan enggak boleh,” tegasnya.
Dia berharap nelayan yang selama ini masih berjalan sendiri tidak hanya menunggu program bantuan, tetapi mulai membangun kelembagaan melalui pembentukan kelompok. Dengan begitu, mereka akan lebih mudah mendapatkan pembinaan, pendampingan, maupun akses terhadap berbagai program pemerintah.
Meski demikian, Ardiansyah mengaku belum mengingat jumlah pasti seluruh kelompok nelayan yang aktif di Tarakan. Menurutnya, data rinci berada pada bidang yang membidangi pembinaan kelompok nelayan.
“Kalau untuk jumlah detailnya, itu silakan tanyakan sama kepala bidang yang membawahi ini. Saya enggak hafal jumlah detailnya,” ucapnya.
Di sisi lain, dia menjelaskan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) merupakan organisasi profesi yang menaungi nelayan dan menjadi mitra koordinasi pemerintah apabila muncul persoalan di lapangan.
“KNTI kan organisasi profesi yang menaungi mereka. Kita hanya koordinasi ke mereka saja. Kalau ada masalah-masalah dengan nelayan, biasa koordinasi dengan kami, KNTI,” pungkasnya. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


