Krisis Air Jadi Alarm, Sekda Usul Tambah Embung di Tarakan

TARAKAN – Krisis air bersih yang sempat melanda Kota Tarakan menjadi peringatan bagi pemerintah daerah, untuk segera memperkuat ketahanan sumber air baku. Meski status siaga bencana kekeringan telah berakhir, Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan menilai langkah jangka panjang harus segera disiapkan, agar persoalan serupa tidak kembali terulang.

Sekretaris Daerah (Sekda) Tarakan, Abd. Azis Hasan, mengatakan salah satu solusi yang paling memungkinkan dilakukan adalah menambah jumlah embung sebagai penampung air baku. Menurutnya, kapasitas tampungan air yang dimiliki Tarakan saat ini masih jauh dari kondisi ideal.

“Berdasarkan kajian Balai Wilayah Sungai (BWS), idealnya Kota Tarakan memiliki cadangan air yang mampu bertahan hingga sekitar 10 bulan. Sementara sekarang cadangan yang kita miliki hanya sekitar 15 hari tanpa hujan,” katanya, Rabu (30/9/2026).

Azis menjelaskan, pembangunan embung menjadi opsi yang paling realistis, karena dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran pemerintah.

“Kalau dibangun sekitar 10 embung, secara kapasitas itu dapat membantu memenuhi kebutuhan air Kota Tarakan,” ujarnya.

Selain membangun embung baru, Pemkot juga mengkaji alternatif penyediaan air baku dari Kabupaten Bulungan maupun Kabupaten Tana Tidung. Menurut Azis, sumber air sungai di kedua daerah tersebut lebih stabil dibandingkan embung yang bergantung pada curah hujan.

“Solusi yang paling aman sebenarnya mengambil air baku dari Bulungan atau Tana Tidung, karena sumber airnya berasal dari sungai, sehingga tidak hanya bergantung pada tampungan air hujan,” jelasnya.

Pilihan lain yang turut dipertimbangkan ialah teknologi desalinasi atau pengolahan air laut menjadi air bersih. Namun, teknologi tersebut membutuhkan energi yang besar sehingga biaya produksinya relatif tinggi.

“Sudah ada investor yang menawarkan teknologi itu. Konsepnya investor memproduksi air, kemudian dibeli pemerintah daerah untuk disalurkan kepada masyarakat. Tetapi biaya produksinya tentu lebih mahal,” katanya.

Menurut Azis, pembangunan embung tetap menjadi solusi yang paling realistis untuk dilaksanakan dalam waktu dekat. Ia berharap pemerintah provinsi dapat ikut mendukung pembangunan infrastruktur sumber air, melalui skema kerja sama dengan Pemerintah Kota Tarakan.

“Kalau kemampuan anggaran pemerintah provinsi memungkinkan, pembangunan infrastruktur sumber air bisa dilakukan bersama. Pemerintah provinsi membantu membangun, kemudian pemerintah kota mengelola dan memanfaatkannya,” ujarnya.

Azis menambahkan, kebutuhan air bersih di Tarakan akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya kawasan perkotaan. Karena itu, penyediaan sumber air baku harus dirancang untuk kebutuhan jangka panjang.

“Jangan sampai beberapa tahun ke depan kita kembali menghadapi krisis, hanya karena beberapa hari tidak turun hujan. Persoalan air ini harus mulai dipikirkan dari sekarang,” tegasnya.

Selain memastikan ketersediaan air, Pemkot juga menaruh perhatian pada kualitas air baku. Menurut Azis, keterbatasan sumber air dapat berdampak pada mutu air yang diolah dan didistribusikan kepada masyarakat, sehingga kedua aspek tersebut harus berjalan beriringan.

Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER