BMKG Prediksi Hujan Guyur Kaltara Sepekan ke Depan, Namun Asap Masih Mengintai

TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan memprediksi, sebagian besar wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) akan diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat selama sepekan ke depan. Namun, meningkatnya curah hujan belum serta-merta menghilangkan kabut asap yang masih berpotensi masuk ke wilayah Kaltara.

Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi mengatakan secara umum seluruh wilayah Kaltara diperkirakan mengalami hujan sedang hingga lebat dalam satu minggu mendatang. Sementara rincian potensi hujan di masing-masing kabupaten dan kota akan diperbarui melalui prakiraan cuaca harian BMKG.

“Secara umum dalam satu minggu ke depan Kalimantan Utara diperkirakan mengalami hujan sedang hingga lebat,” kata Khilmi, Senin (21/9/2026).

Meski demikian, Khilmi mengingatkan masyarakat tidak menganggap hujan akan langsung mengusir kabut asap. Menurutnya, selama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah hingga Sulawesi, serta arah angin masih dominan bertiup dari selatan ke utara, asap tetap berpotensi terbawa ke Kaltara.

“Walaupun kita hujan, kalau di provinsi lain masih ada karhutla dan anginnya dominan dari selatan ke utara, kita tetap akan merasakan fenomena asap di Kaltara,” ujarnya.

Selain kabut asap, BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang yang perlu diwaspadai masyarakat. Tarakan diprediksi mengalami angin kencang pada hari ini, sedangkan Malinau berpotensi mengalami kondisi serupa pada Selasa (22/9/2026).

Angin kencang tersebut dapat memicu pohon tumbang, kerusakan atap bangunan yang kurang kokoh hingga robohnya baliho.

“Selain kabut asap, masyarakat juga perlu mengantisipasi angin kencang yang bisa menyebabkan pohon tumbang, atap rusak atau baliho roboh,” jelasnya.

Terkait kabut asap, BMKG belum dapat memastikan kapan fenomena tersebut akan berakhir. Khilmi menjelaskan kondisi itu masih dipengaruhi puncak musim kemarau di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah yang berlangsung sepanjang September. Minimnya curah hujan membuat lahan lebih mudah terbakar sehingga potensi munculnya asap masih cukup tinggi.

“Mudah-mudahan setelah melewati puncak kemarau pada September, memasuki Oktober tingkat kemudahan kebakaran menurun sehingga kejadian karhutla juga ikut berkurang,” pungkasnya.

Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER