
BERAU – Kabut asap tebal yang menyelimuti wilayah Kabupaten Berau kembali berdampak terhadap aktivitas transportasi udara. Kondisi jarak pandang yang menurun membuat sejumlah penerbangan dari maupun menuju Berau tidak dapat beroperasi.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak Bandara Kalimarau, jarak pandang di sekitar wilayah bandara saat ini berada di kisaran 2.000 meter. Kondisi tersebut berada di bawah batas yang dibutuhkan untuk mendukung aktivitas penerbangan secara normal.
“Dari hasil koordinasi dengan Kepala Bandara Kalimarau, jarak pandang berkisar di angka 2.000-an meter,” ujar Gamalis.
Menurutnya, standar jarak pandang untuk pesawat melakukan pendaratan (landing) berada pada kisaran 3.000 hingga 3.500 meter. Sementara untuk lepas landas (take off), jarak pandang yang dibutuhkan berada di kisaran 1.800 meter.
Dengan kondisi jarak pandang yang belum memenuhi ketentuan untuk pendaratan, aktivitas penerbangan di Bandara Kalimarau menjadi terganggu. Sejumlah maskapai yang sebelumnya melayani rute menuju maupun dari Berau tidak dapat menjalankan penerbangannya.
“Untuk landing itu berkisar 3.000 sampai 3.500 meter, sedangkan untuk take off sekitar 1.800 meter. Ini yang menyebabkan aktivitas penerbangan tidak beroperasi,” jelasnya.
Gamalis menyebut, hingga hari ini hampir seluruh rute penerbangan dari Berau maupun penerbangan dari daerah lain menuju Kabupaten Berau terdampak kondisi kabut asap.
Bahkan, dari sejumlah penerbangan yang dijadwalkan, hanya terdapat satu pesawat yang masih dalam perjalanan dari Surabaya menuju Berau. Pemerintah daerah berharap pesawat tersebut dapat mendarat di Bandara Kalimarau apabila kondisi jarak pandang memungkinkan.
“Hari ini tidak ada maskapai yang beroperasi. Hanya ada satu penerbangan yang saat ini masih mengudara dari Surabaya menuju Kabupaten Berau. Mudah-mudahan bisa sampai di Berau,” katanya.
Namun, apabila kondisi cuaca dan jarak pandang tidak memungkinkan untuk melakukan pendaratan di Bandara Kalimarau, pesawat tersebut akan dialihkan untuk mendarat di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan.
“Kalau memang tidak memungkinkan untuk sampai ke Kabupaten Berau, pesawat tersebut akan singgah di Balikpapan,” lanjut Gamalis.
Gangguan penerbangan ini menjadi salah satu dampak langsung dari memburuknya kualitas udara dan kondisi atmosfer akibat kabut asap yang menyelimuti Berau. Selain menghambat mobilitas masyarakat, kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu distribusi logistik serta aktivitas ekonomi yang bergantung pada transportasi udara.
Pemerintah Kabupaten Berau pun terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi udara dan jarak pandang, terutama di sekitar kawasan Bandara Kalimarau. Aktivitas penerbangan akan menyesuaikan dengan kondisi keselamatan dan ketentuan operasional penerbangan yang berlaku.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa kabut asap tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga mulai mengganggu berbagai sektor pelayanan dan konektivitas daerah, termasuk transportasi udara,” pungkasnya. (ADV)


