TARAKAN – Tarif praktikum dan penelitian di RSUD dr. Jusuf SK menuai sorotan dari Universitas Borneo Tarakan (UBT). Besaran biaya yang diberlakukan dinilai memberatkan mahasiswa, bahkan dikhawatirkan memicu kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di masa mendatang.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Kaltara, yang menghadirkan Kepala Dinas Kesehatan, Direktur RSUD dr. Jusuf SK, serta jajaran pimpinan fakultas UBT, Kamis (17/9/2026).
Dekan Fakultas Kedokteran UBT, dr. Joko Haryanto, mengatakan pihaknya memahami RSUD harus menjalankan tata kelola Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), sekaligus memenuhi target Pendapatan Asli Daerah (PAD). Meski begitu, ia berharap ada ruang komunikasi agar tarif praktik dapat disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa.
“Salah satu yang paling disorot adalah besarnya biaya di lahan praktik. Kami memahami posisi manajemen RSUD, tetapi perlu ada penyesuaian tarif agar tidak memberatkan mahasiswa,” ujarnya.
Menurut Joko, mayoritas mahasiswa UBT merupakan putra-putri Kalimantan Utara yang dipersiapkan menjadi tenaga kesehatan untuk mengabdi di daerah. Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu memberikan dukungan melalui kebijakan tarif yang lebih berpihak.
Senada, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UBT, Alfianur, mengungkapkan biaya praktik saat ini sudah melampaui besaran UKT mahasiswa. Dia menjelaskan UKT mahasiswa FIKES berkisar Rp3 juta hingga Rp3,5 juta per semester.
Sebagai gambaran, mahasiswa profesi Ners menjalani praktik sebanyak 18 SKS atau sekitar 126 hari. Dengan tarif Rp50 ribu per hari, biaya praktik mencapai Rp6,3 juta. Nilai itu belum termasuk biaya orientasi praktik Rp230 ribu, ujian Rp150 ribu, serta biaya presentasi praktik.
“Angka ini jelas jauh melampaui UKT mahasiswa kami. Jika tidak ada penyesuaian atau subsidi, kampus bisa berada pada posisi sulit karena berpotensi harus menyesuaikan UKT,” katanya.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FIKES UBT, Hendy Lesmana, menambahkan kenaikan biaya juga terjadi pada kegiatan penelitian mahasiswa.
Dia menyebut tarif praktik mahasiswa Diploma III naik dari Rp12.500 menjadi Rp30 ribu per hari. Sementara biaya penelitian yang sebelumnya dipungut Rp300 ribu per proposal kini berubah menjadi tarif mingguan, yakni Rp320 ribu per minggu untuk D3 dan Rp650 ribu per minggu bagi mahasiswa S1 maupun profesi.
“Kalau penelitian berlangsung tiga hingga enam minggu, tentu biayanya sangat memberatkan mahasiswa,” jelasnya.
Hendy mengatakan tingginya biaya tersebut membuat fakultas kerap mengarahkan mahasiswa melakukan penelitian berbasis komunitas atau masyarakat, sebagai alternatif agar tidak terbebani biaya penelitian di rumah sakit.
Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


