TARAKAN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, sepanjang Agustus 2026 mencapai sekitar 56 hektare. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan mencatat sedikitnya 25 titik kebakaran telah ditangani.
Kepala BPBD Tarakan Yonsep mengatakan, penanganan karhutla menjadi tantangan karena kebakaran di sejumlah lokasi kembali muncul meski sebelumnya telah dipadamkan.
“Kalau kita hitung sebenarnya penanganannya lebih, karena berulang. Begitu dipadamkan malam ini, besok siang nyala lagi, terpaksa turun lagi,” kata Yonsep, Kamis (27/8/2026).
Sejumlah wilayah mengalami kebakaran dengan luasan cukup besar. Di Karungan, lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 13 hektare. Kemudian di kawasan Bengawan, Juwata Permai, luas kebakaran mencapai sekitar 16 hektare. Sementara kebakaran lainnya tersebar di daerah Tarakan Timur dan Utara.
Yonsep menjelaskan, pemadaman lahan dengan area luas tidak bisa selalu dituntaskan dalam satu kali operasi. Api dapat kembali muncul ketika angin masuk ke celah material yang masih menyimpan panas dan berpotensi terbakar.
Selain karhutla, BPBD Tarakan juga menangani kebakaran yang berkaitan dengan material batubara. Tiga lokasi yang menjadi perhatian saat ini berada di Jalan Amal, Pasir Putih depan Rumpi, dan kawasan Kampung Enam.
Berbeda dengan kebakaran lahan biasa, api pada material batubara dapat berada di rongga bawah permukaan tanah, sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan.
“Kalau kita melihat potensinya memang ada potensi material batubara di bawah tempat itu. Tapi kita tidak tahu berapa jumlahnya, harus diteliti dulu,” ujarnya.
Tingginya kejadian kebakaran juga diperberat keterbatasan personel. BPBD menilai idealnya terdapat sekitar 10 personel di setiap kecamatan, untuk menangani kondisi darurat. Namun, personel yang tersedia harus dibagi ketika kebakaran terjadi secara bersamaan di beberapa wilayah.
“Kalau terjadi kebakaran, contoh saja 18 orang. Kebakaran di Juwata Laut, di Karungan, kebakaran di Amal, kebakaran misalnya di Juwata Permai. Kalau dibagikan 18 orang, itu tidak bisa maksimal,” katanya.
Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja dalam waktu panjang. Yonsep bahkan menyebut sejumlah personel harus beristirahat di lokasi, setelah bertugas sejak pagi hingga pagi berikutnya.
Meski demikian, BPBD memastikan sarana dan prasarana yang tersedia masih mampu mendukung penanganan karhutla. Sejumlah peralatan juga dimodifikasi agar lebih efektif digunakan di lapangan.
Yonsep memperkirakan ancaman karhutla masih akan berlangsung hingga September. Kondisi tersebut bahkan bisa lebih lama jika cuaca kering terus berlanjut. “Kalau melihat kondisi ini saya rasa lebih,” pungkasnya.
Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


