TARAKAN – Bendera Dayak Borneo berkibar di area jalan rusak di Jalan Lingkar yang menghubungkan Krayan Induk dan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), Senin (17/8/2026).
Bendera berwarna merah, kuning, dan biru itu dikibarkan di bawah Bendera Merah Putih. Aksi tersebut dilakukan warga untuk menyampaikan aspirasi terkait kondisi jalan di wilayah perbatasan RI-Malaysia.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persekutuan Dayak Lundayeh (PDL) Tarakan, Yonsep, menilai pengibaran Bendera Dayak Borneo tersebut perlu dilihat dari konteks persoalan yang ingin disampaikan masyarakat.
Yonsep yang juga merupakan penasihat PDL di tingkat Provinsi Kaltara mengatakan, aksi tersebut tidak tepat jika langsung dianggap sebagai bentuk makar atau ketidaksukaan terhadap NKRI.
“Ini bukan makar atau bentuk ketidaksukaan terhadap negara. Saya melihatnya sebagai reaksi spontan dan ekspresi ketidakpuasan anak-anak muda terhadap kondisi yang ada,” kata Yonsep, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, pengibaran bendera tersebut terjadi di tengah kondisi jalan yang rusak. Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya melihat simbol yang dikibarkan, tetapi juga memahami pesan yang hendak disampaikan warga.
Yonsep menilai masyarakat di Krayan sedang menyampaikan keresahan mengenai pembangunan dan akses infrastruktur di wilayah perbatasan.
“Jangan langsung melihatnya sebagai sesuatu yang mengarah ke makar. Ini bagian dari ekspresi masyarakat yang perlu dihormati dan dihargai,” ujarnya.
Dia meminta pemerintah segera merespons persoalan tersebut secara cepat dan bijak. Menurut Yonsep, pembangunan infrastruktur, khususnya akses jalan, menjadi bagian penting dari kehadiran negara di wilayah perbatasan.
“Negara jangan hanya menuntut loyalitas ideologi. Tetapi masyarakat juga harus merasakan kehadiran negara melalui pembangunan, terutama akses jalan dan infrastruktur,” katanya.
Yonsep juga mengingatkan, agar persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut. Pemerintah, kata dia, perlu membuka ruang komunikasi untuk mengetahui alasan dan latar belakang aksi warga.
Ia khawatir persoalan yang awalnya merupakan ekspresi kekecewaan terhadap kondisi pembangunan, justru berkembang menjadi isu yang lebih besar apabila tidak ditangani dengan pendekatan yang tepat.
“Yang paling penting adalah mencari tahu apa yang menjadi dasar dan motivasi mereka. Jangan sampai persoalan ini justru membesar karena pendekatan yang tidak tepat,” tuturnya.
Di sisi lain, Yonsep menyebut PDL telah menerima laporan internal mengenai kejadian tersebut. Organisasi masih melakukan koordinasi untuk mengidentifikasi pihak-pihak muda, yang terlibat dalam aksi sebelum mengambil langkah komunikasi lebih lanjut.
“Kami sudah menerima laporan. Sekarang masih kami koordinasikan dan identifikasi siapa saja yang terlibat. Setelah itu baru kami menentukan langkah komunikasi lebih lanjut,” pungkasnya.
Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


