Stunting di Tarakan Turun Jadi 4,18 Persen, Masih Ada 532 Balita Terdampak

TARAKAN – Angka stunting di Kota Tarakan terus menunjukkan tren penurunan. Hingga Juni 2026, prevalensi stunting tercatat sebesar 4,18 persen. Meski demikian, masih terdapat 532 balita yang teridentifikasi mengalami stunting dari total 12.726 balita yang telah diperiksa.

Wali Kota Tarakan Khairul mengatakan, penurunan angka stunting merupakan salah satu capaian yang berhasil diraih Pemerintah Kota Tarakan dalam lima tahun terakhir. Menurutnya, saat awal masa kepemimpinannya, prevalensi stunting di Tarakan sempat mencapai sekitar 25 persen dan menjadi yang tertinggi di Kalimantan Utara.

Untuk menekan angka tersebut, Pemkot Tarakan mengalokasikan anggaran ke setiap kelurahan guna mendukung pemberian makanan tambahan bagi balita sasaran stunting. Program itu diperkuat dengan pendampingan kader PKK dan posyandu yang secara rutin memantau tumbuh kembang anak.

“Alhamdulillah sekarang angkanya sudah sekitar 4 persen. Ini tidak lepas dari peran ibu-ibu PKK yang turun langsung mendampingi keluarga dan membantu pemberian makanan kepada anak-anak stunting,” ujar Khairul, Sabtu (1/8/2026).

Sementara itu, data yang diperoleh melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan dari Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas), Paulina Bura, menunjukkan prevalensi stunting hingga Juni 2026 berada di angka 4,18 persen. Dari 12.726 balita yang telah diperiksa, sebanyak 532 balita masih masuk kategori stunting.

Berdasarkan data tersebut, Kelurahan Pantai Amal menjadi wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi sebesar 8,33 persen, disusul Sebengkok 6,26 persen, Juata Permai 6,13 persen, Gunung Lingkas 5,62 persen, dan Lingkas Ujung 5,57 persen. “Sementara itu, Karang Rejo menjadi kelurahan dengan prevalensi terendah, yakni 1,74 persen, diikuti Juata Kerikil 2,57 persen, Karang Harapan 2,89 persen, Pamusian 2,90 persen, dan Karang Anyar Pantai 3,05 persen,” ucapnya, Senin (3/8/2026).

Meski angka stunting terus menurun, Pemerintah Kota Tarakan bersama Dinkes akan tetap memperkuat intervensi gizi, pendampingan keluarga berisiko stunting, serta pemantauan tumbuh kembang balita agar prevalensi stunting dapat terus ditekan pada tahun ini.

Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER