TARAKAN – Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Kalimantan Utara (Kaltara) masih berada di bawah rata-rata nasional. Data tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota Tarakan karena menunjukkan masih rendahnya jumlah lulusan SMA dan sederajat yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Kondisi itu disoroti Wali Kota Tarakan, Khairul. Menurutnya, APK perguruan tinggi untuk kelompok usia 19–23 tahun di Kalimantan Utara saat ini baru mencapai 27,93 persen, sedangkan rata-rata nasional telah berada di angka 32,98 persen.
“Artinya, sekitar 70 persen anak usia kuliah di daerah kita belum atau tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama,” ujar Khairul, Minggu (2/8/2026).
Dia menjelaskan, masih rendahnya APK pendidikan tinggi dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah keterbatasan akses bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman atau perdesaan sehingga sulit menjangkau layanan pendidikan tinggi.
Selain itu, persoalan ekonomi juga masih menjadi kendala utama. Banyak lulusan SMA dan SMK memilih langsung bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga dibanding melanjutkan pendidikan.
Menurut Khairul, perkembangan sistem pembelajaran yang lebih fleksibel membuka peluang lebih besar bagi masyarakat untuk tetap menempuh pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau berpindah ke kota besar.
Dengan sistem pembelajaran yang tidak mengharuskan mahasiswa selalu hadir di kampus, masyarakat yang tinggal di daerah maupun sudah bekerja tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
Khairul juga mengungkapkan tren peserta didik kini mulai berubah. Jika sebelumnya pendidikan tinggi dengan sistem fleksibel lebih banyak diikuti kalangan pekerja, kini mayoritas pesertanya justru berasal dari lulusan baru SMA dan SMK.
Dia berharap angka partisipasi pendidikan tinggi di Tarakan maupun Kalimantan Utara terus meningkat sehingga mampu menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas.
Sebagai perbandingan, Khairul menyebut APK pendidikan tinggi di Malaysia telah mencapai sekitar 43 persen, Thailand berkisar 49 hingga 50 persen, sedangkan Singapura mencapai sekitar 91 persen.
“Kalau ingin daerah maju, kuncinya ada pada kualitas SDM. Semakin banyak anak yang melanjutkan pendidikan tinggi, semakin besar peluang kita membangun daerah yang lebih maju dan sejahtera,” pungkasnya. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


