Distanak Kukar Perketat Pemeriksaan Kesehatan Hewan Kurban

TENGGARONG – Tingginya antusiasme masyarakat Kutai Kartanegara dalam menyambut Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah membuat stok sapi kurban di sejumlah wilayah hampir habis terjual.

Dinas Pertanian dan Peternakan Kutai Kartanegara mencatat sekitar 90 persen sapi kurban yang disiapkan pedagang telah dipesan masyarakat bahkan sebelum hari raya tiba.

Kepala Bidang Peternakan Distanak Kukar, Iwan Hermawan, mengatakan tingginya permintaan terjadi hampir di seluruh wilayah Kukar.

“Sekitar 90 persen, karena mereka sudah terpesan,” ujarnya, Senin (26/5/2026).

Menurut Iwan, pola penjualan hewan kurban di Kukar memang didominasi sistem pemesanan awal. Para pedagang umumnya menyiapkan stok berdasarkan jumlah pesanan masyarakat.

“Pedagang itu biasanya stok berdasarkan pesanan masyarakat,” katanya.

Meski permintaan tinggi, Distanak Kukar memastikan ketersediaan hewan kurban tahun ini masih aman. Sekitar 6.000 ekor sapi disiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh Kukar.

Khusus wilayah Tenggarong, tersedia sekitar 450 ekor sapi kurban yang tersebar di sejumlah titik penjualan. Sementara stok terbesar berada di kawasan Samboja dan Samboja Barat dengan jumlah mencapai sekitar 1.000 ekor.

“Paling banyak itu di Samboja. Jadi Samboja dan Samboja Barat sekitar seribu ekor disiapkan di sana,” jelasnya.

Selain memastikan stok aman, pemerintah daerah juga memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban. Seluruh sapi yang dinyatakan sehat akan diberikan penanda khusus sebagai bukti layak dijadikan hewan kurban.

“Setelah diperiksa dan dinyatakan sehat, kita kalungkan bahwa itu layak menjadi sapi kurban,” ujarnya.

Namun demikian, petugas masih menemukan beberapa hewan yang tidak memenuhi syarat kurban akibat cedera saat proses distribusi dari daerah asal.

“Ada beberapa yang tidak layak, misalnya kakinya patah saat perjalanan dari tempat penampungan,” katanya.

Iwan menjelaskan, pasokan sapi kurban di Kukar berasal dari tiga daerah utama, yakni Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan peternak lokal Kukar.

Mayoritas sapi didatangkan dari Kupang, NTT karena daerah tersebut telah dinyatakan bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), sehingga tidak perlu menjalani karantina tambahan.

“Kalau dari Kupang sudah bebas PMK, jadi tidak perlu karantina lagi di Samarinda,” jelasnya.

Sementara sapi asal Sulawesi masih diwajibkan menjalani karantina selama 12 hingga 15 hari di Balikpapan sebelum dipasarkan karena wilayah asalnya masih ditemukan kasus PMK.

Selain sapi, Distanak Kukar juga mencatat ketersediaan sekitar 1.000 ekor kambing kurban dari peternak lokal maupun luar daerah. Jenis kambing yang dijual didominasi kambing kacang lokal dan kambing peranakan etawa. “Kalau kambing sementara ini sekitar seribu ekor disediakan. Dari lokal ada, dari luar Kukar juga ada,” tutupnya. (MK)

Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Agus S

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER