TARAKAN – Tingginya antusias masyarakat terhadap pelayaran langsung rute Tarakan-Surabaya saat kapal deviasi beberapa waktu lalu, belum cukup membuat trayek tersebut dibuka secara reguler. PT Pelni mengungkap masih ada sejumlah kendala, terutama soal jumlah penumpang dan pola pelayaran.
Kepala Cabang PT Pelni Tarakan, Ferdy Ronny Masengi mengatakan, pelayaran langsung ke Surabaya sempat dilakukan saat KM Lambelu menjalani docking tahunan. Saat itu, Pelni menambah ruas pelayaran dari Tarakan menuju Surabaya untuk menjawab tingginya permintaan masyarakat. “Antusias penumpang sangat tinggi. Tapi memang selama ini pola trayek yang diterapkan belum berjalan rutin atau reguler,” kata Ferdy, Selasa (19/5/2026).
Dia menyebut, jumlah penumpang dari Tarakan menuju Surabaya saat pelayaran deviasi tercatat sebanyak 177 orang. Sementara dari Nunukan mencapai 118 penumpang. Menurutnya, angka tersebut masih belum ideal jika dibandingkan kapasitas kapal yang mencapai sekitar 2.000 penumpang. “Kalau melihat kapasitas kapal, tentu itu masih kurang. Apalagi kapal juga melewati beberapa pelabuhan sebelum sampai Surabaya,” ujarnya.
Ferdy menjelaskan, setelah kapal berangkat dari Makassar menuju Surabaya, jumlah penumpang memang semakin sedikit. Karena itu, Pelni berharap kuota penumpang ke Surabaya minimal bisa mencapai separuh kapasitas kapal.
Meski demikian, dia memastikan Pelni tetap siap apabila mendapat penugasan dari Kementerian Perhubungan untuk membuka trayek tersebut secara berkala. “Kalau memang ada penugasan dari kementerian, kami siap menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.
Ferdy juga mengakui salah satu kendala utama adalah belum adanya jadwal reguler. Kondisi itu membuat masyarakat kesulitan merencanakan perjalanan jauh hari. “Kalau sudah reguler, orang pasti bisa merencanakan perjalanan. Itu juga menjadi bahan kajian pemerintah daerah, KSOP, dan kementerian,” jelasnya.
Untuk tahun 2026, kata dia, usulan trayek langsung Tarakan-Surabaya memang belum sepenuhnya terakomodasi, karena pertimbangan jumlah penumpang. Namun saat ini sebenarnya sudah ada skema perjalanan menuju Surabaya, meski penumpang harus transit di Balikpapan.
Dalam mekanisme tersebut, penumpang dari Tarakan menggunakan kapal Pelni menuju Balikpapan. Setelah tiba, penumpang akan berpindah ke kapal swasta tujuan Surabaya yang sudah disiapkan. “Sudah ada koordinasi. Jadi penumpang dari Tarakan nanti lanjut naik kapal lain dari Balikpapan ke Surabaya,” ujarnya.
Hanya saja, penumpang tetap harus membeli tiket baru karena kapal lanjutan dioperasikan perusahaan berbeda. Tarif kapal swasta juga dinilai lebih mahal dibanding kapal Pelni yang menggunakan tarif subsidi pemerintah.
Ferdy menambahkan, pelayaran deviasi yang dibuka sebelumnya juga menjadi bahan evaluasi bagi Pelni dan pemerintah pusat, untuk melihat seberapa besar kebutuhan masyarakat terhadap rute langsung Tarakan-Surabaya. “Ini bentuk upaya kami memberikan masukan ke kementerian bahwa animo masyarakat sebenarnya tinggi,” pungkasnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


