JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Pada perdagangan Senin (18/5/2026), rupiah ditutup melemah 83 poin ke level Rp17.680 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.597.
Pengamat ekonomi dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan dolar AS dipicu lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran pasar terhadap konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
“Penguatan dolar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim.
Ia menjelaskan situasi global semakin panas setelah muncul laporan serangan drone di wilayah Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, ditambah belum adanya tanda meredanya konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
“Serangan drone di UEA dan Arab Saudi serta retorika dari AS dan Iran menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik,” katanya.
Selain faktor eksternal, Ibrahim juga menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menyebut sebagian masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS dalam aktivitas sehari-hari sehingga dampaknya dianggap tidak terlalu terasa.
Menurut Ibrahim, kondisi masyarakat desa saat ini sudah jauh lebih terbuka terhadap perkembangan ekonomi global karena akses teknologi dan informasi semakin merata.
“Kondisi masyarakat di desa saat ini lebih pandai dibandingkan masyarakat kota karena teknologi sudah merata, sehingga salah kalau Prabowo mengatakan orang desa tidak mengenal dolar AS,” ujarnya.
Ia menilai pernyataan kepala negara seharusnya dipersiapkan lebih matang agar tidak memunculkan persepsi negatif di tengah situasi pasar yang sensitif.
“Sangat disayangkan di sekitaran presiden terutama sekretaris kabinet tidak bisa mengarahkan pidato presiden sesuai dengan protokol yang sudah ada,” ucapnya.
Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dalam beberapa hari ke depan dan berpotensi bergerak di kisaran Rp17.680 hingga Rp17.750 per dolar AS. (MK)
Pewarta: Fajri
Editor: Agus S


