TARAKAN – Tingginya biaya logistik di Kalimantan Utara membuat pelaku usaha memilih jalur ekspor melalui luar negeri dibanding mengirim langsung dari Tarakan. Kondisi ini dinilai ironis karena ongkos distribusi ke daerah dalam negeri justru lebih mahal.
Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltara, Peter Setiawan menyebut biaya pengiriman kontainer dari Tarakan menjadi persoalan utama yang selama ini membebani pelaku usaha. “Dari Tarakan ke luar negeri bisa sekitar Rp40 sampai Rp50 juta. Dari Surabaya ke luar negeri juga sekitar itu. Tapi dari Tarakan ke Surabaya justru bisa sampai Rp100 juta,” kata Peter, Minggu (10/5/2026).
Menurutnya, mahalnya ongkos logistik membuat pengusaha mencari jalur alternatif yang dianggap lebih efisien. Salah satunya dengan mengirim barang melalui Tawau, Malaysia, sebelum diteruskan ke Kuala Lumpur hingga China. “Selama ini ekspor kita banyak tidak langsung dari Tarakan. Barang harus lewat daerah lain dulu, sehingga biaya jadi lebih tinggi dan daerah kita tidak mendapat nilai tambah secara maksimal,” ujarnya.
Peter menjelaskan, pola distribusi lintas negara mulai marak sejak diberlakukannya larangan ekspor benih kepiting beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, banyak pelaku usaha membuka jalur distribusi melalui Tawau. “Akibatnya komoditas kita lebih dikenal dari Tawau, padahal sumbernya dari daerah kita sendiri,” ungkapnya.
Dia menilai kondisi tersebut merugikan daerah karena potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak tercatat optimal. Selain itu, peluang investasi dinilai ikut terhambat lantaran belum adanya aktivitas ekspor langsung yang konsisten dari Tarakan.
Menurut Peter, jika ekspor bisa dilakukan langsung dari Tarakan, rantai distribusi akan lebih pendek dan biaya pengiriman bisa ditekan. “Investor juga akan lebih tertarik karena melihat ada aktivitas ekspor langsung dari daerah,” katanya.
Meski demikian, upaya ekspor langsung masih terkendala berbagai persoalan, mulai dari mahalnya biaya pengiriman, keterbatasan armada, hingga minimnya volume muatan. “Kadang kontainer harus didatangkan kosong dulu, baru diisi di sini. Kapasitas muatan kita juga belum selalu mencukupi, jadi biaya makin tinggi,” ujarnya.
Selain itu, keterbatasan rute pelayaran membuat waktu distribusi lebih lama karena kapal harus menempuh jalur memutar. Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha juga menghadapi tekanan biaya produksi global. Harga bahan kemasan dan ongkos distribusi terus meningkat, sementara harga jual komoditas ekspor cenderung stagnan. “Sekarang biaya packaging naik, biaya kontainer juga naik. Tapi harga jual tidak ikut naik,” ucapnya.
Saat ini, komoditas hasil laut asal Kalimantan Utara seperti udang dan ikan masih diekspor ke sejumlah negara tujuan, termasuk kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Peter juga mendorong pemerintah membuka konektivitas yang lebih luas, tidak hanya untuk distribusi barang tetapi juga mobilitas manusia dan wisatawan mancanegara. “Kalau konektivitas dibuka, bukan hanya barang yang bergerak, tapi juga orang. Wisatawan bisa langsung masuk, dampaknya ke hotel, UMKM, sampai kuliner,” pungkasnya.
Pewarta: Ade Prasetia


