TARAKAN – Kenaikan harga kemasan plastik hingga thinwall di Tarakan tak hanya dikeluhkan pedagang, tetapi juga memukul pelaku UMKM. Bahkan, lonjakan harga disebut mencapai hingga 75 persen, terutama pasca Lebaran.
Pelaku UMKM Tarakan, Rika Pratiwi, mengaku kenaikan harga kemasan menjadi yang paling tinggi selama 11 tahun dirinya menjalankan usaha. “Ini yang paling tinggi. Selama saya jadi pelaku UMKM 11 tahun, kenaikan kemasan kali ini yang paling terasa,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Rika yang merupakan owner D’Two menyebut, produk kemasan untuk oleh-oleh seperti amplang mengalami kenaikan drastis. Harga kemasan yang sebelumnya sekitar Rp7 ribu per piece kini melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp14 ribu. “Hampir 75 persen naiknya. Dari Rp7 ribu sekarang jadi Rp14 ribu per piece. Itu sangat memberatkan,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini membuat pelaku UMKM harus memutar otak untuk bertahan. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengurangi isi produk, agar harga jual tetap terjangkau. “Kalau harga dinaikkan, takutnya pembeli turun. Jadi banyak yang menyiasati dengan mengurangi isi produk,” jelasnya.
Rika menuturkan, kenaikan tidak hanya terjadi pada kemasan utama, tetapi juga perlengkapan lain seperti plastik dan gelas. Bahkan, biaya operasional plastik dalam sebulan melonjak drastis. “Biasanya untuk plastik sekitar Rp770 ribu per bulan, sekarang tembus Rp1,8 juta. Itu baru plastik saja,” ungkapnya.
Sementara untuk gelas minuman, pengeluaran yang sebelumnya sekitar Rp835 ribu per bulan kini meningkat menjadi Rp1,1 juta. “Harga gelas juga naik. Dari sekitar Rp13 ribu sekarang jadi Rp18 ribu. Semua naik,” katanya.
Ia menjelaskan, kenaikan harga bahan baku saat Ramadan sempat terjadi, namun puncaknya justru pada kemasan setelah Lebaran. Padahal, kemasan menjadi komponen penting dalam penjualan produk UMKM, khususnya sektor kuliner dan minuman. “Kalau bahan baku masih bisa disiasati, misalnya ganti merek. Tapi kalau kemasan, itu wajib. Tidak mungkin kita jual tanpa kemasan,” ujarnya.
Rika yang juga tergabung dalam binaan Rumah BUMN dan Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (DKUKMP) Tarakan menyebut, saat ini pelaku UMKM tengah menghitung ulang harga pokok penjualan (HPP). “Kami harus hitung ulang semua. Bukan sekadar harga naik, tapi memang sudah berubah. Jadi harus disesuaikan lagi,” jelasnya.
Selain itu, pelaku UMKM juga mulai mencari alternatif kemasan yang lebih murah, seperti menggunakan bahan yang lebih tipis. Meski begitu, mereka tetap berupaya menjaga kualitas produk.
Di sisi lain, Rika menyebut kenaikan kemasan kardus atau kertas belum terjadi, sehingga masih menjadi pilihan bagi sebagian pelaku usaha. Meski demikian, ia menilai kondisi ini tetap menjadi tantangan besar, terutama bagi pelaku usaha minuman seperti penjual es dan kopi yang sangat bergantung pada kemasan plastik. “Kami sekarang benar-benar harus beradaptasi lagi. Istilahnya seperti mulai dari awal untuk hitung biaya dan strategi jualan,” pungkasnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


