TARAKAN – Belanja pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Tarakan telah menembus angka 47 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kondisi ini membuat Pemkot Tarakan mengisyaratkan tidak membuka seleksi Aparatur Sipil Negara (ASN) pada tahun 2026.
Kebijakan tersebut berlaku untuk penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), meski pemerintah pusat berencana kembali membuka rekrutmen ASN tahun ini.
Wali Kota Tarakan, Khairul mengatakan, tingginya porsi belanja pegawai menjadi pertimbangan utama. Jika rekrutmen tetap dibuka, dikhawatirkan akan semakin membebani keuangan daerah.
“Sekarang ini saja belanja pegawai kita sudah 47 persen. Mungkin kalaupun ada, sangat selektif, tapi sampai sekarang ini kami belum mengajukan,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Dia menjelaskan, kondisi keuangan daerah juga tengah mengalami penurunan sekitar Rp400 miliar. Di sisi lain, beban pembayaran PPPK yang sebelumnya ditanggung pemerintah pusat kini dialihkan ke daerah. “Kami sekarang ini proporsional dalam belanja pegawai. Karena keuangan kita turun sekitar Rp400 miliar, lalu biaya untuk PPPK yang tadinya ditanggung pusat dibebankan lagi ke kita, itu yang menyebabkan pembengkakan,” jelasnya.
Menurutnya, angka tersebut belum termasuk honor pegawai kategori R4 yang masih dibebankan melalui belanja barang dan jasa. Jika dimasukkan ke dalam belanja pegawai, persentasenya akan semakin besar. “Masa semua untuk pegawai? Sementara masyarakat pada teriak jalan masih banyak yang rusak, masih ada yang belum dialiri air bersih, kalau hujan deras banjir. Ini kan problem kita juga,” tegasnya.
Pemkot Tarakan saat ini memilih mengoptimalkan pegawai yang ada, termasuk melakukan redistribusi ke jabatan yang masih kosong. Selain itu, jika ada tenaga honorer yang berhenti, tidak akan dilakukan pengangkatan baru, melainkan diisi dari dinas lain. Meski begitu, Pemkot Tarakan tetap membuka peluang penambahan pegawai secara terbatas dengan mempertimbangkan kebutuhan riil di lapangan.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


