TANJUNG SELOR – Hampir semua desa di Kabupaten Bulungan ikut berpartisipasi memeriahkan hari jadi Tanjung Selor yang ke-235 dan Bulungan yang ke-65 tahun 2025.
Setiap desa di Bulungan telah disediakan stan masing-masing untuk menampilkan produk UMKM mereka. Salah satunya Desa Tanjung Agung, Kecamatan Tanjung Palas Timur.
Desa ini menampilkan sejumlah produk unggulan mereka di antaranya telur ayam, sayur-sayuran, madu kelulut, dendeng pucuk ubi, dan sabun cuci piring.
Kepala Desa Tanjung Agung, Marco menyatakan sangat mendukung kreativitas ibu-ibu PKK dalam mengemas produk UMKM, sehingga memiliki nilai ekonomis dan mampu dipasarkan lewat pameran hari jadi Bulungan dan Tanjung Selor.
“Hanya satu kendalanya menyangkut soal pemasaran. Setiap produk yang kami kelola baik makanan ringan maupun produk lainnya, masih menuai kendala dalam hal promosi. Bahkan, masyarakat setempat masih banyak yang belum mengenal produk yang dihasilkan oleh Desa Tanjung Agung,” ucap Marco.
“Bahkan masyarakat lokal belum banyak yang mengerti ada produk-produk lokal yang baik juga di Kabupaten Bulungan ini,” tukasnya.
Pihaknya berharap, lewat pameran ini ada dukungan dari pemerintah setempat. Kendala lain yang dialami warga setempat saat hendak berusaha yakni dari sisi modal.
“Kurangnya modal menjadi salah satu kendala kita. Kurangnya modal menjadi penghambat sulitnya pelaku usaha untuk bersaing dengan produk yang sama di pasaran,” tukasnya.
Dukungan dan bantuan permodalan dari pemerintah sangat mereka butuhkan. Ia menambahkan Desa Tanjung Agung saat ini mampu memproduksi kurang lebih 7 ribu butir telur per hari dengan induk ayam sekitar 7,3 ribu ekor.
Ia mengatakan, untuk wilayah Kabupaten Bulungan masih belum banyak pengusaha telur, dan Desa Tanjung Agung menjadi salah satu yang aktif dalam usaha ini. Karena, lewat usaha peternak telur ini bisa menyerap tenaga kerja setempat. Dengan demikian mereka yang belum mendapatkan penghasilan tetap, lewat usaha ini bisa memberikan manfaat langsung bagi warga sekitar.
Telur yang dijual dari Desa Tanjung Agung 1 piringnya sebesar Rp 55 ribu. Sedangkan jika ambil di tempat produksi, harga telurnya mencapai Rp 50 ribu satu piring. Saat ini, pakan yang digunakan bagi ayam peternak itu bersumber dari hasil pertanian warga. “Jadi kita mendorong perputaran ekonomi warga bisa hidup ditengah tantangan kebutuhan yang tidak menentu,” tandasnya. (*)
Penulis: Martinus
Editor: Yusva Alam


