TARAKAN – Festival Iraw Tengkayu 2025 kembali digelar penuh kemeriahan di Pantai Amal, Kota Tarakan. Salah satu prosesi yang paling ditunggu-tunggu adalah penurunan Padaw Tuju Dulung, perahu khas suku Tidung Pesisir yang sarat makna filosofi dan sejarah.
Budayawan Suku Tidung sekaligus Pengarah Prosesi Penurunan Padaw Tuju Dulung, Datu Norbeck, menjelaskan bahwa rangkaian Iraw Tengkayu dimulai dengan berbagai kegiatan budaya dan ditutup dengan prosesi penurunan perahu ke laut.
Dia menjelaskan perahu Padaw Tuju Dulung memiliki tujuh haluan dengan tiga bagian utama, yakni tengah, kanan, dan kiri, masing-masing melambangkan tujuh hari kehidupan manusia.
Di bagian atasnya terdapat meligai, rumah kecil tempat meletakkan sesaji dan simbol makanan raja. Warna kuning, hijau, dan merah mendominasi perahu.
Datu Norbeck menjelaskan, kuning melambangkan kemuliaan, hijau berarti keyakinan, dan merah bermakna ketegasan.
Sebelum prosesi, digelar tari kolosal berdurasi sekitar 27 menit yang melibatkan 157 penari dari pelajar SMA se-Kota Tarakan dan Sanggar Budaya Paguntaka. Tarian dibagi menjadi tiga bagian yakni Iluk Sedungan (sukaria), Busakambang (bunga mekar), dan Ulin Lingkuda (kembalinya pemimpin).
“Bagian pertama bersumber dari kesenian Tari Melayu Tidung, kedua dari Jepin, dan ketiga dari Iluk. Masing-masing menggambarkan hubungan manusia dengan alam, sesama manusia, dan alam spiritual,” kata Datu usai prosesi penurunan Padaw Tuju Dulung di Pantai Amal, Minggu (12/10/2025) sore.
Menurutnya, Iraw Tengkayu bukan sekadar pesta rakyat, tapi juga bentuk penghormatan kepada roh leluhur dan ungkapan syukur atas rezeki dari Tuhan. Datu menambahkan, dirinya bangga karena Iraw Tengkayu kembali masuk dalam kalender nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) untuk keempat kalinya. “Ini capaian besar yang harus terus dijaga dan ditingkatkan,” pungkasnya. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


