
BERAU – Program Kota Sehat (KKS) di Kabupaten Berau tidak hanya bergantung pada peran pemerintah, melainkan juga menuntut keterlibatan seluruh komponen masyarakat.
Hal ini ditegaskan oleh Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau, Muhammad Said, yang menyebut kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan sehat dan berkelanjutan.
Said menjelaskan, KKS mencakup sembilan tatanan besar, mulai dari kehidupan masyarakat sehat mandiri, fasilitas umum, pendidikan, pasar, perkantoran, pariwisata, transportasi, perlindungan sosial, hingga penanggulangan bencana. Menurutnya, cakupan yang luas tersebut mustahil bisa dijalankan secara optimal tanpa kerja sama berbagai pihak.
“Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Perusahaan, UMKM, pelaku pariwisata, dan masyarakat harus ikut andil. Karena kota sehat adalah hasil kerja bersama,” ujarnya.
Dalam proses evaluasi yang dilakukan tim verifikator pusat, Berau dinilai cukup baik meski masih ada beberapa catatan terkait kesesuaian data dengan kondisi lapangan. Said menyebut, catatan tersebut justru menjadi dorongan untuk lebih memperkuat sinergi lintas sektor.
“Alhamdulillah kita diapresiasi. Catatan yang ada akan segera kita lengkapi, dan ini bisa jadi momentum memperbaiki data sekaligus memperkuat kerja sama antarinstansi,” tuturnya.
Ia juga menyoroti sektor pasar sehat dan penanganan bencana yang masih menyimpan tantangan. Namun, menurutnya tantangan itu merupakan peluang untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pengelolaan.
Said menegaskan, program KKS tidak boleh berhenti sebagai rutinitas verifikasi, melainkan harus menjadi gerakan berkelanjutan. Ia berharap semua pihak melihat program ini sebagai investasi jangka panjang untuk menciptakan Berau yang sehat, nyaman, dan berdaya saing.
“Swastisaba Padapa 2025 yang kita targetkan hanyalah bonus. Tujuan utamanya adalah membangun budaya hidup sehat yang bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat,” pungkasnya. (adv/ril/and)


