TANJUNG SELOR – Angka stunting di Kalimantan Utara (Kaltara), masih bersifat fluktuatif berdasarkan pendataan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang dilakukan Kementerian Kesehatan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian (Bappeda) Kaltara, Bertius, menjelaskan bahwa angka stunting di Kaltara cenderung naik turun sesuai hasil survei nasional.
“Jadi kita tidak melakukannya sendiri. Karena itu, kadang kita harus menunggu publikasi resmi dari Kementerian. Kondisi sampai saat ini bisa saya katakan masih fluktuatif,” ungkapnya saat ditemui, Rabu (27/8/2025).
Berdasarkan data SSGI, prevalensi stunting di Provinsi Kaltara sempat berada di angka 22,1 persen pada tahun 2022, kemudian turun menjadi 17,4 persen pada tahun 2023.
Namun, pada 2024 kembali meningkat tipis menjadi 17,6 persen atau naik 0,2 persen.
Fluktuasi angka stunting ini menjadi catatan penting bagi Pemerintah Provinsi maupun pemerintah kabupaten di Kaltara, untuk lebih serius dalam menekan angka stunting dan menanggulangi faktor penyebabnya.
Bertius menjelaskan, kondisi geografis dan aksesibilitas di Kaltara turut menjadi kendala yang memengaruhi tingginya angka stunting.
“Dengan kondisi geografis dan aksesibilitas yang terbatas, tentu jangkauan kita dalam memberikan pelayanan juga ikut terbatas,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan Bappeda terus berkolaborasi dengan dinas terkait, baik dari sisi perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan. Misalnya, dengan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait kebiasaan buang hajat di aliran sungai serta penyediaan sarana sanitasi.(*)
Penulis: Martinus
Editor: Yusva Alam


